Home / KEMAT / Menggali Makna Rondo Beser di Dunia Perkerisan

Menggali Makna Rondo Beser di Dunia Perkerisan

Ada sejumlah istilah yang menggelitik dalam dunia perkerisan. Misalnya kata Rondo untuk menyebut istilah Rondo Beser. Ini menarik dan segera menjadi diskusi panjang di antara para penggiat keris. Mereka tertarik terutama karena maknanya yang samar.

“Monggo ada yang bisa kasih penjelasan…? Mungkin ada fotonya,” kata Ki Setyo, Ketua Umum Perkumpulan Tosan Aji Brajabumi, mengawali diskusi virtual yang gayeng tentang rondo yang jika diartikan secara harafiah adalah janda. Sedang beser adalah kata dari bahasa Jawa yang merujuk pada keinginan selalu buang air kecil.

Rondo Beser, menurut Ki Sugeng Winarto, adalah keris yang  antara bilah dan gonjo yang sudah renggang tidak bisa trep pas lagi. Jadi ada sela di antara gonjo dan bilah. Itu pengertian umum yang mungkin di kalangan perkerisan sudah pada paham. Namun bila ada pengertian dan makna lain yang lebih detail dan komplit boleh ditambahi untuk menambah wawasan.

“Saya juga heran kenapa kok ya disebut randa beser yang dalam arti harfiah adalah janda yang sering beser atau pipis-pipis melulu. Bahasa yang terkesan sedikit nakal yang tentu saja tidak mengurangi sedikitpun makna nilai filosofis dan keagungan sebuah keris/pusaka. Ataukah istilah ini hanya dikenal oleh kalangan tertentu saja,” jelasnya.

Sayang, tambah Ki Sugeng, dirinya tidak memiliki contoh keris yang disebut rondo beser tersebut. “Malah saya teringat dengan salah satu keris yang pernah di unggah oleh Gus  Zaeni Miftah yang disertai tulisan randa beser. waktu itu sudah lumayan lama,” tuturnya.

Terkadang para waskita bahkan para orang tua dan leluhur leluhur memiliki dan menamai istilah-istilah tertentu dengan sesuatu yang unik. Dalam meramu, mengolah, mengadopsi dan menciptakan mantra-mantra pun sering menggunakan bahasa yang unik.

“Nyleneh maupun nyalawadi bahkan terkesan tidak nyambung ataupun vulgar. Saya ingat dulu ketika masih SMP menemukan mantra pengasihan versi Jawa yang sangat unik. Ada bahasa yang membuat saya bertanya tanya sampai sekarang bunyinya begini, kaki nyilit nini, nini nyilit kaki. kaki nyelang anda, nini mbobot tua. Si jabang ponange. jabang bayine…… sido welas sido asih.. dst,” ungkapnya.

Kembali mengenai istilah keris randha beser dengan segala persepsi dan makna simboliknya. “Baik negatif maupun positif itu kembali ke pribadi masing-masing  pemegang pemilik pusaka sebagai sang pancernya. Sedulur papat sebagai manifestasi wesi aji dan siji pancer diri kita sebagai pemegang keris. Yang jelas membahas randa dan wanita itu sangat asyik sekali. Fitrah. Sebagaimana lingga yoni sebagai manifestasi maskulin feminin. Lanang wadon. Yin yang,” tutupnya.(kib)

About redaksi

Check Also

Brajabumi Ikut Peringati 1.407 Tahun Bumi Galuh

Bertolak dari Rumah Budaya Bumi Bimasakti yang sekaligus Sekretariat Perkumpulan Tosan Aji Brajabumi, hari sudah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *