Home / PMD / Mengejutkan, Pernah ada Paleo Tsunami di Kulon Progo

Mengejutkan, Pernah ada Paleo Tsunami di Kulon Progo

Ada 3 mega proyek di wilayah pesisir Kabupaten Kulon Progo, yaitu bandara NYIA di desa Glagah yang sedang dikebut penyelesaiannya, smelter pasir besi di desa Karangwuni yang dalam keadaan mati suri, dan pelabuhan Adikarta di muara Kali Serang yang kondisinya hidup segan mati tak mau. Amankah ke 3 mega proyek tersebut dari ancaman bencana alam Tsunami?

Paleo = kuno/purba/masa lalu. Paleo tsunami = tsunami yang pernah terjadi di masa lalu. Ada penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, yang sampai sekarang masih berlanjut, hasilnya cukup mengagetkan. Hasil penelitian telah menemukan adanya indikasi paleo tsunami di wilayah Kabupaten Kulon Progo. Pengamatan dan pengambilan sampel dilakukan melalui parit uji (semacam eskavasi dalam arkeologi) di area persawahan di desa Karangwuni dan desa Garongan, yang jaraknya ± 1,5 km dari pantai saat ini.

Pertama, ditemukan bekas endapan rawa dimana terdapat bongkahan-bongkahan kayu. Dalam sejarah Kadipaten Adikarta, rawa ini memang benar adanya yang disebut Rawa Karang Kemuning. Disebutkan, rawa ini berlokasi di sebelah utara pasir urut sewu (pasir besi sekarang), memanjang dari kali Progo di sebelah timur hingga kali Serang di sebelah barat.

Atas perintah Sri Paduka Paku Alam V, rawa ini dikeringkan untuk dijadikan lahan persawahan yang sangat subur. Daerah yang sungguh-sungguh elok, Adi (Linuwih) dan Karta (Subur), oleh karena itu maka Sri Paduka Paku Alam V selanjutnya berkenan menggantikan nama Karang Kemuning menjadi Adikarta pada tahun 1877 dengan ibukota di Bendungan.

Pertanyaannya adalah  bagaimana mungkin di dalam endapan rawa terdapat bongkahan-bongkahan kayu? Pasti ada kekuatan besar yang menyapu pepohonan yang berada di dan sekitar rawa.

Kedua, ditemukan fosil foraminifera plangktonik dan bentonik. Fosil itu hewan/tumbuhan yang telah mati menyatu dan terawetkan di dalam batuan/tanah. Foraminifera adalah binatang renik (sangat kecil), yang hidupnya di laut, dan hanya bisa dilihat dengan menggunakan mikroskop binokuler sehingga nampak 3 dimensi. Foraminifera plangtonik hidupnya melayang di tubuh air, sedangkan foraminifera bentonik hidupnya di substrat dasar laut.

Pertanyaannya adalah “bagaimana mungkin binatang renik yang hidupnya di laut bisa terlempar ke daratan hingga sejauh ± 1,5 km bahkan mungkin lebih? Pasti ada gelombang laut besar yang masuk jauh ke kedaratan.

Dari 2 temuan tersebut dapat ditarik suatu hipotesa bahwa di wilayah Kabupaten Kulon Progo pada masa lalu pernah terjadi peristiwa tsunami hebat. Kapan tsunami tersebut terjadi? Belum diketahui, karena penelitian saat ini masih berlanjut.

Untuk diketahui bahwa penentuan waktu identik dengan penentuan umur lapisan tanah yang mengandung fosil foraminifera tersebut, bisa dilakukan dengan cara radio dating (peluruhan unsur radioaktif) yang biasanya banyak terkandung pada mineral lempung. Berapa korban harta, benda, dan jiwa? Belum diketahui juga, karena tidak ada catatannya. Tapi, diduga tidak banyak korban harta dan jiwa, karena pada waktu itu sebagian besar wilayah selatan Kulon Progo masih berupa rawa, belum banyak permukiman penduduk,

Apa makna temuan tersebut? Suatu peringatan! Gempa bumi dan tsunami sewaktu-waktu bisa terjadi di wilayah selatan Kabupaten Kulon Progo. Tsunami dan gempa bumi adalah dua bencana alam yang sering berkaitan, namun tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi dan seberapa besar kekuatannya. Oleh karena itu, semua pihak perlu waspada untuk mengantisipasinya.(*)

About redaksi

Check Also

Kapolsek Sentolo : Arep duwe gawe kudu patuh protokol kesehatan

Sentolo, Kabarno.com – Jajaran Kepolisian Sektor Sentolo selaku anggota Kampung Tangguh Nusantara Menoreh Report System …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *