Home / KANGBARNO / Mas Jat dan Jombokan Hiking Club yang Legendaris
Pak Jat dan Pak Didik, dua putra Jombokan yang membanggakan

Mas Jat dan Jombokan Hiking Club yang Legendaris

Hari ini, Sujatmiko SH, MH dilantik menjadi Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Denpasar Bali. Membaca berita itu, dari Bekasi Timur yang kusut, saya melemparkan ingatan ke masa silam. Masa keteika masih berada di kampung halaman, bersama Mas Jat di Dusun Jombokan, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kabupaten Kulon Progo, DIY.

Oleh Dwidjo Oetomo
Penulis Senior Kabarno.com

Suatu ketika saat kami ngumpul di ndalemnya Mbah Pandi (ini nama ayahanda Mas Jat yang sangat kondang di dusun kami), teman-teman remaja berembug. Hari itu, akan melakukan perjalanan kecil ke Gunung Jeruk yang legendaris.

Mas Jat langsung nyeletuk, kita buat Club anak muda yang keren. JHC namanya, panjangnya Jombokan Hiking Club, spontan saja ide itu meluncur mengalir sambil terus berjalan dari rumah Mbah Pandi di pusat kota Jombokan ke arah Utara menuju Gunung Jeruk.

Awalnya tidak ada tanggapan dari teman seperjalanan, selain lelah berjalan di bawah terik matahari. Juga belum tergambar seperti apa bentuk kegiatan atau gerakannya. Beberapa pekan sepulang dari Gunung Jeruk, anak-anak remaja yang sama bersepeda keliling kampung, Mas Jat kembali berteriak, “JHC ayo sambil mancal pedal.”

Ayo JHC begitu selalu ketika jalan bareng di banyak kesempatan. Selanjutnya, teriakan Ayo JHC seperti menjadi yel-yel bagi kami yang memang senang ngumpul-ngumpul. Itu, kira-kira saat Mas Jat sudah memasuki akhir Sekolah Dasar, kalau tidak salah ingat. Beda usia saya dengan Mas Jat memang tidak  jauh,  paling hanya tiga atau empat tahunan.

Tapi ya begitu, setelah Mas Jat lulus SD, sudah jarang ada teriakan Ayo JHC. Sebab, Mas Jat meneruskan sekolah di SMPN 1 Wates yang teman-temannya sudah berbeda dari seluruh penjuru Kulon Progo. Apalagi, setelah tamat SMP, langkahnya semakin jauh dengan sekolah di SMA Muhi Jogjakarta yang kondang sebagai sekolah favorit.

Nah, pertemuan selanjutnya justru terjadi di Semarang saat Mas Jat Kuliah Universitas Diponegoro. Juurusan yang diambil adalah hukum. Kebetulan saya juga harus kuliah di Semarang, tapi menggoknya jauh sekali dari kebiasaan anak-anak muda di kampung kami: Jurusan jurnalistik.

Meski beda kampus, bertemu Mas Jat selalu menyenangkan. Kami memang ada kalanya janjian ketemu, apalagi di Semarang juga ada Mas Sunar, putrane Mbah Tir yang bahkan sudah bekerja di Semarang. Nah, kami sering bertemu. Mas Jat dan Mas Sunar  sering mengajak pulang kampung bersama. Kami memang tiga serangkai di Semarang, hanya beda nasib saja, saya yang paling muda dan paling memprihatinkan.

“Ayo bareng ke Semarang,” katanya suatu ketika saat kami sama-sama ada di Jombokan. Saya memang sering pulang setiap Sabtu-Minggu untuk sowan bapak sekaligus minta jatah buat hidup di Semarang.

Maka mendapat tawaran Mas Jat bareng, sudah pasti menyenangkan, karena yakin akan dibayari ongkos ke Semarang. Tapi rupanya, hari itu, Mas Jat ngajak boncengan sepeda motor, waduh…

“Apa kegiatanmu di kampus?” Mas Jat bertanya di tengah perjalanan

“Menwa mas,” saya menjawab, kalau tidak salah  sambil membusungkan dada, membesarkan diri. Tapi jawaban Mas Jat pendek saja, tidak seperti yang saya harapakan akan memuji habis-habisan, “Yo wis apik.”

“Nek aku lebih sering interaksi dengan teman berdiskusi, di grup teater atau kelompok diskusi lainnya, lebih menantang,” kalimat itu langsung serasa menampar wajah saya. Ternyata saya yang sudang membanggakan diri sebagai Menwa masih kalah gengsi dari Mas Jat yang senang berdiskusi dan main teater. (*)

About redaksi

Check Also

Sewu Tumini untuk Pak Direktur

Ini tentang Tumini. Sesuatu yang baru, paling tidak buat saya yang belum pernah  mendengar ada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *