Home / KANGBARNO / Ki Setyo Budi, Bakal Calon Bupati Kebumen-8: Mencintai Alam Kebumen

Ki Setyo Budi, Bakal Calon Bupati Kebumen-8: Mencintai Alam Kebumen

Kecintaan Ki Setyo Budi terhadap alam Kebumen tidak perlu diragukan. Kesenangannya menggeluti laku spiritual sering kali membawanya terjun ke alam bebas. Jadi keluar-masuk hutan, termasuk hutan yang ada di wilayah Kebumen, sudah biasa.

Seolah ada kenikmatan tersendiri ketika Ki Setyo dapat menyatu dengan alam. Sebab dari alam ia banyak menemukan ilmu tentang kehidupan yang semua itu menambah wawasan dan cara pandang Ki Setyo dalam menghadapi tantangan hidup.

Kedekatannya dengan Om Ari (demikian dia memanggil akrab Aster Perhutani Kedu Wilayah Kebumen) banyak menambah wawasan dan pengetahuan tentang tata kelola hutan.

Sejak masih remaja, Setyo Budi sudah sangat suka dengan lingkungan. Kesenangannya naik turun dataran tinggi dan pegunungan semakin lengkap ketika di kampus Unsoed, Ki Setyo juga aktif di Organisasi Kegiatan Mahasiswa UPL (Unit Pecinta Lingkungan ) sering juga disebut Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam).

Saat sudah merantau di Jakarta, Ki Setyo pada waktu waktu tertentu akan menyempatkan diri pulang ke Kebumen. Dan dilanjut masuk ke hutan-hutan ditemani Om Ari yang selalu aktif memberikan pencerahan perlunya kita cinta dan melestarikan hutan di Kebumen.

Seperti diketahui, Kabupaten Kebumen memiliki hutan seluas sekitar 39.959 hektar, yang terdiri dari Hutan Milik Perhutani  seluas 17.659 hektar dan Hutan Rakyat seluas 22.300 hektar. Hutan ini terdiri dari Hutan Lindung, Hutan Produksi, Hutan Bakau dan Hutan Rakyat. Untuk Hutan Industri oleh Pihak Perhutani banyak ditanam pohon Pinus dan pohon Jati.

Hutan Rakyat sebagian besar ditanami Pohon kelapa dan beberapa lokasi sudah mulai dengan tanaman kopi dan Genitri.

Ki Setyo melihat selain dari Lahan Pertanian, lahan hutan di Kebumen adalah salah satu potensi yang harus diberikan perhatian khusus.

Beberapa kasus menunjukan adanya kejadian yang berdampak kurang baik seperti penebangan yang tidak prosedural serta kebakaran hutan di musim kemarau panjang.

Bila digarap dengan baik, dimaksimalkan penangananya, maka hutan di Kebumen akan mampu memperoleh hasil yang dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.

Pemangku Kepentingan harus lebih proaktif melakukan pendekatan dan pembinaan terhadap warga yang menggantungkan hidupnya dari Hutan. Juga bantuan sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan mereka.

Sebut saja Para Penderes Getah Pinus di wilayah sebaran hutan Pinus di Kecamatan Karang Sambung, Karang Gayam, Sadang, Rowo Kele tidak kurang dari 4000 jiwa. Ini adalah perpaduan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang luar biasa.

Belum juga mereka yang menekuni Tanaman lain seperti pohon kelapa, kopi, genitri, pohon jati dll.

Mayoritas penduduk Kebumen tahu bahwa Genitri Kebumen adalah yang terbaik di dunia. Genitri bisa jadi icon Kebumen menggantikan sarang burung lawet yang mulai menurun hasilnya. Sayang rasanya bila selama ini Genitri Kebumen hanya dinikmati oleh segelintir penggiat Genitri dan nyaris tidak terdengar ada campur tangan pemerintah daerah untuk hal ini.

Kopi Kebumen sekarang ini juga sudah mulai menggeliat. Dari Kebumen juga muncul kopi yang mampu menghasilkan cita rasa yang khas dan nikmat.

Hasil Getah Pinus melimpah, Hasil Nila Kelapa banyak, dari tanaman produksi lain seperti kopi dan Genitri juga cukup banyak, namun kenapa Kebumen hanya cukup senang menjadi lahan saja, mestinya di era moderen seperti sekarang ini di Kebumen sudah ada Pabrik yang mampu mengolah hasil hasil hutan itu menjadi produk unggulan yang membanggakan.

Di pameran pameran dagang baik di tingkat nasional maupun internasional, Kebumen belum pernah menampilkan secara signifikan produk unggulan. Sementara wilayah tetangga bisa sangat bangga menampilkan produk unggulannya, sebut saja Gula Semut Kulon Progo, Getuk Magelang, Produksi Bulu Mata Purbalingga, Tembakau Wonosobo, Kopi Temanggung dan yang lainnya. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Wayahe Ngobrolin Inspirasi bagi Kulon Progo

Ngopi-ngopi di malam Minggu, rasane gayeng. Tapi pada malam Minggu 25 Juli 2020 nanti, ada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *