Home / KANGBARNO / Ketika Pak Hasto Berharap Diundang Genduren

Ketika Pak Hasto Berharap Diundang Genduren

Senin Pahing, 1 Juli 2019, menjadi momentum paling haru-biru, bagi masyarakat Kulon Progo. Sebab, Pak Hasto yang membanggakan, dilantik menjadi Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).

Dan, sore itu, dokter Hasto Wardoyo yang selama dua periode memimpin Kulon Progo, tampil tak kalah haru. Saya melihat senyumnya, agak sendu, begitu bersama ibu Hasto, turun dari mobil di lobi kantor BKKBN. Saat berjabat tangan, saya melihat senyum itu seperti menyisakan kegundahan yang belum usai. Mungkinkah karena masih belum bisa melupakan Kulon Progo?

Saya, orang pertama yang menyalami begitu Pak Hasto turun dari mobil. Biasanya, ada kalimat menarik yang diucapkan, tapi kali ini, hanya senyum itu yang menjadi pengganti kata-kata.

Jam tiga lewat, dokter Hasto resmi dilantik. Saya berdiri di sudut depan, di belakang pranoto acoro, jadi melihat dengan sangat jelas setiap detail wajahnya yang (lagi-lagi) diliputi keharuan. Keharuan yang semakin jelas, ketika mengucap sumpah. Ada satu kalimat pendek, yang dijeda agak lama, karena (saya yakin) tercekat oleh perasaan antara sedih dan bahagia.

Sudah. Ritual resmi selesai. Selanjutnya, para undangan memberi selamat dimulai dari Menteri Kesehatan. Saya melihat, barisan pertama yang memberi ucapan selamat adalah Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Pakualam X, lalu ada Wakil Bupati Kulon Progo, Drs Sutedjo, diikuti undangan lain, termasuk para pejabat di Pemkab Kulon Progo.

Barisan memanjang hingga ke luar ruangan pelantikan. Antrean paling belakang, seolah tak bergerak, bahkan hingga satu jam. Tapi begitu undangan lain mulai meninggalkan ruangan, pak Hasto dan ibu, dibawa protokol meninggalkan ruang pelantikan. Tidak kurang Wakil Bupati Kulon Progo, Drs Sutedjo harus berlarian mengejar Pak Hasto, untuk memberi ucapan selamat.

Di belakang Pak Tedjo, beberapa orang tamu juga mendresel, membuat langkah Kepala BKKBN terhalang. “Nanti ke sini lagi,” kata dokter Hasto kepada undangan yang masih riuh menunggu memberi ucapan selamat.

Di antara para tamu yang masih berbaris panjang adalah para pengurus Badan Koordinasi Kulon Progo (Bakor PKP). “Ya udah foto bareng pak Tedjo saja,” kata Haji Agus Riyanto, Ketua Umum Bakor mendekati tempat duduk Pak Wabub di sisi kiri ruang pelantikan, diikuti tujuh pengurus Bakor di belakangnya.

Setengah jam. Pak Hasto dan Bu Hasto kembali ke ruang pelantikan yang masih penuh orang. Suasana agak lebih santai, karena tetamu yang masih bertahan adalah orang-orang terdekat Bupati Kulon Progo itu. Selain keluarga, para pejabat Pemkab Kulon Progo, termasuk Pak Tedjo yang masih bertahan menunggu di ruang pelantikan.

Barisan pemberi ucapan selamat kembali dibentuk. Kali ini, rombongan pengurus Bakor PKP mendapat giliran yang cepat. “Pokoke mangke menawi onten ingkang ngendureke, saya harus diundang,” kata Pak Hasto berkelakar.

Selesai. Sesi berikutnya adalah foto-foto dan selfi-selfi. Tidak lagi diatur oleh protokol BKKBN, tapi diatur sendiri-sendiri, siapa yang cepat, dia dapat foto duluan.  “Saya sudah langsung tawarkan ke beliau, untuk masuk menjadi anggota Bakor PKP,” kata Pak Agus Riyanto setelah tetamu bubar dan Pak Hasto benar-benar meninggalkan ruangan.

Maka begitulah. Pelantikan dokter Hasto Wardoyo memang berhias banyak cerita. Tapi  yang menjadi sangat menarik, di tengah-tengah pelantikan yang bahkan belum selesai, di sosial media, beredar nama dokter Hasto Wardoyo di antara nama-nama calon menteri. Di beberapa WAG, daftar calon menteri itu juga mengalir ke banyak warga Kulon Progo.  Di sana, Hasto Wardoyo ada di urutan ke-20 sebagai Menteri Kesehatan/Kepala BKKBN.

Lantas, inikah rahasia di balik pengangkatannya sebagai Kepala BKKBN? Mungkinkah, bintang di pundak pak Hasto harus dinaikkan dulu, sebelum empat bulan ke depan masuk kabinet? Semogalah.

***

Pelantikan dokter Hasto menjadi Kepala BKKBN, tentulah memiliki banya sekali makna. Salah satunya, yang paling personal, barangkali sebagai kado ulangtahunnya yang ke-55 tahun. Benar. Pada 30 Juli 2019 ini, pria kelahiran Kokap, Kulon Progo itu, berulangtahun yang ke-55. Jadi inilah kado spesial sekaligus pencapaian barunya, melengkapai begitu banyak kisah suksesnya.

Lalu, seperti apa sesungguhnya, karakter dokter Hasto Wardoyo berdasarkan hitung-hitungan Weton dan Pawukon? Berikut ini saya cuplikkan dari Kalender Pawukon 200 tahun yang ditulis Djoko Mulyono.

Lahir pada 30 Juli 1964, dokter Hasto memiliki weton Kamis Pon. Tanggal lahirnya dalam kalender Jawi adalah  20 Mulud 1896, atau 20 Rabiul Awal 1384 Hijriah. Nah wataknya berdasarkan weton Kamis, cenderung menakutkan.

Sementara itu,  pasaran Pon melengkapi sifat menakutkan dengan ketegasan. Tida mau memakan yang bukan miliknya, jalan fikirannya sering berbeda dengan umum, serta berani pada atasan. Tapi di balik semua itu, bicaranya banyak diterima orang.

Selain suka tinggal di rumah, berdasarkan pasaran Pon, rejekinya cukup. Lalu berdasarkan paarasan, ia dilambangkan sebagai Lakuning Srengenge yang berarti, berwibawa, menghidupi, menerangi, dan hidup sentausa.

Pak Hasto lahir pada wuku Wuye dengan Dewa Bumi   Bethara Kuwera yang memiliki karakter menyenangkan hati orang lain, kalau bicara sangat mengesankan, serta selalu waspada dengan disimbolkan selalu menghunus keris.

Lambang lain yang membuat Pak Hasto memiliki banyak pencapaian adalah lambang burungnya, burung Gogik yang memiliki karakter besar ambisinya. Lalu,  gedhongnya terbuka pintunya sehingga bisa dimaknai sebagai seorang yang dermawan dan ikhlas.

Pralambang berikutnya, kedua kaki terendam di air, sehingga berwatak memberi keteduhan kepada dan sesama tajam pandangannya terhadap kebaikan. Berdasarkan wuku Wuye, lambang pohonnya, adalah pohon tal, menandakan usianya yang akan panjang.(*)

About redaksi

Check Also

Ke Belitung NKS Membayangkan Kopi Menoreh

Tulisan ini sebagai pengobat rindu, setelah seminggu tidak bertemu Sedulur NKS. Tulisan tentang Belitung. Negeri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *