Home / KANGBARNO / Keris Kiai Garudayaksa Milik Prabowo Diritualkan di Khayangan Dlepih

Keris Kiai Garudayaksa Milik Prabowo Diritualkan di Khayangan Dlepih

Suasana tak biasa, ada pada kampanye akbar Prabowo Subianto di Stadiun Sriwedari Solo, beberapa hari lalu. Bukan soal ribuan massa yang terasa menggelegar, atau narasi Prabowo yang membakar. Tapi oleh karena hadirnya sebilah keris wingit.

Namanya  Kanjeng Kiai Garudayaksa. Digubah Mpu Totok Brojodiningrat, keris berdhapur Pasopati ini, segera menyihir semesta, saat ditarik dari warangkanya, lalu menuding langit. Sebuah simbol pembebasan yang sangat maknawi, seperti pusoko asmo untuk keris itu, Kanjeng Kiai Garudoyakso.

Nama Kanjeng Kiai Garuda Yaksa sengaja dipilih dengan membawa filosofi mendalam. Garuda adalah lambang pembebasan dari penindasan. Sebagai konsep ruwatan Sukerta, Garuda ada pada relief Candi Sukuh lereng Lawu. Sedangkan makna Yaksa tidak sesempit yang selama ini dipahami oleh umum, yaitu raksasa atau besar. Sebab Yaksa memiliki makna yang jauh lebih dalam.

“Yaksa juga punya arti pandawa atau lima. Pesan yang tersirat didalamnya adalah, hendaknya pemegang keris tersebut mampu  Meper Ubal Kanepsoning Ponco Hindriyo. Yaitu mampu mengendalikan nafsu dari panca indra. Yaksa juga berarti Tata Gati Wisaya. Menggenggam erat Pancasila, sebagai darma dalam hidupnya. Karena dengan menggenggam lima darma itulah seorang pemimpin akan bermahkotakan Hasta Brata,” jelas Mpu Totok dalam percakapan virtual yang membuat saya langsung merinding.

Kanjeng Kiai Garuda Yaksa memiliki dhapur Pasopati. Dalam khazanah perkerisan, ini bukan sekadar nama dari sebuah dapur keris yang dibuat oleh Mpu Ramadi. “Saya lebih memilih nama Ramadi, bukan Ramayadi.  Pasopati juga nama dari Saro Pamungkas dengan bedor Wulang Tumanggal, anugerah Sang Mahadewa kepada begawan Ciptaning ketika mahasing asamun di gua Witaraga (mati sajroning urip),” tutur Mpu Totok Brojodiningrat.

Pasopati, tambahnya, jika digunakan tidak akan mindhon gaweni, artinya tepat sasaran pada mereka yang memang jatah harus musnah dari panggung dunia. Namun sebaliknya, Pasopati sungguh akan kehilangan daya linuwihnya saat digunakan tidak pada sejatinya sasaran.

“Akan aber segala keampuhannya. Karena di dalam Pasopati terekam mantram saat pembuatannya, yaitu: Hulun tan mande suko lintang taranggono, tarlen muhung brastho watak angkoro, budi candholo, hambeg siyo, leletheking jagad gelah gelahing bumi,” babar Mpu Totok yang membuat saya semakin bergetar.

Keris Kanjeng Kiai Garuda Yaksa memiliki ricikan antara lain  kerisnya Leres (tanpa luk), Pejetan, Sogokan, Greneng, sekar kacang Pogog.

Dan, segala yang wingit dari Keris Kanjeng Kiai Garuda Yaksa semakin sempurna, setelah proses mbabar terakhir dibawa ke tempat sakral Khayangan Dlepih. “Memang kami sanggarkan di atas batu Kedhung Pasiraman Khayangan Dlepih Wonogiri. Tujuannya untuk mentransfer energi alam kayangan yang agung,” ungkap Mpu Totok.

Dalam tradisi spiritual Jawa, Khayangan Dlepih merupakan petilasan raja-raja  tanah Jawa yang sakral. Dari era Prabu Airlangga pun sudah bertapa di Khayangan Dlepih usai terjadi perang pralaya. Juga Panembahan Senopati.

Seperti telah menjadi pengetahuan umum (terutama para penggiat spiritual Jawi) saat akan mendirikan dinasti Mataram Islam, Panembahan Senopati mendapatkan Wahyu Lintang Johar di Kayangan Dlepih.

Dalaam percakapan virtual melalui ponsel, Mpu Totok Brojodiningrat secara khusus mengirimkan foto saat berada di Khayangan Dlepih. “Nembe panjenengan ingkang kulo aturi foto sinengker puniko. Mbok menawi panci jatah panjenengan,” kata Mpu Totok mengakhiri perbincangan.(kib)

 

About redaksi

Check Also

Ngarso Dalem Menyebut Perantau DIY sebagai Diaspora yang Penting

Ngarso Dalem Menyebut Perantau DIY sebagai Diaspora yang Penting Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwana X, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *