Home / KANGBARNO / Keprihatinan Pak Sudadi, Maha Menteri Keraton Agung Sejagad dari Plumbon Kulon Progo

Keprihatinan Pak Sudadi, Maha Menteri Keraton Agung Sejagad dari Plumbon Kulon Progo

Gonjang-ganjing munculnya Keraton Agung Sejagat (KAS), masih menjadi polemik. Bersama itu, satu demi satu, jatuh korban. Mereka terpedaya Toto Santoso yang menobatkan dirinya sebagai Raja Keraton Agung Sejagat.

TEMON, KABARNO.COM-Minta dipanggil Sinuwun Toto Santoso Hadiningrat, raja Keraton Agung Sejagat mengagetkan publik saat menggelar acara Wilujengan Keraton Agung Sejagat pada Jumat, 10-12 Januari 2020. Berisi kirab budaya dan ritual adat Prasasti I Bhumi Mataram 2, wilujengan digelar di Desa Pogung Juru Tengah, Kecamatan Bayan, Purworejo.

Sepekan setelah muncul, banyak orang yang menyadari telah terpedaya Sinuwun Toto. Apalagi setelah pria yang pernah tinggal di Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara itu, ditangkap polisi dari Polda Jawa Tengah.

Dan, salah satu korban imajinasi Toto  Santoso membangun Keraton Agung Sejagat adalah Pak Sudadi. Mantan Lurah Plubon, Kapenewon Temon ini, ikut menjadi orang yang terbujuk rayu Toto, bahkan sudah sejak 2014.

Saat ditemui media di rumahnya, di Desa Plubon, Pak Dadi berkisah tentang hubungannya dengan Totok Santoso. Ia terlibat dengan kegiatan yang dipimpin Totok saat bergabung dalam Kulon Progo Development Committee (KKP DEC). Ini merupakan cabang dari Jogjakarta Development Committee (Jogja-DEC).

Tahun 2014, Sudadi menjadi koordinator KKP DEC pada 2014.  Semula, menurutnya, organisasi ini, bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Itu, yang membuat Pak Dadi tertarik saat diajak seorang kawannya untuk bergabung.

Pada perkembangannya, ada janji mendapat penghasilan Rp 50 juta setiap bulan. Hanya saja, janji itu, ambyar dan organisasi bubar tahun 2018. Bukannya mendapat penghasilan, apalagi penghasilan Rp 50 juta, Sudadi malah banyak keluar uang.

Meski organisasinya bubar, Toto seperti tak kehilangan akal. Ia mendirikan Keraton Agung Sejagat (KAS). Sudadi kembali ditawari bergabung.  Tidak tanggung-tanggung, dalam struktur KAS, jabatannya maha menteri.

Subadi berhak menyandang bintang tiga di pundak,  karena keterlibatannya dalam organisasi Toto  yang sudah bubar, cukup aktif.  Tapi semua berubah menjadi keprihatinan, ketika Keraton Agung Sejagat, tak lebih dari halusinasi.

“Saya prihatin, kenapa kok bisa terjadi seperti ini, semula ada harapan yang dijanjikan Pak Toto, tapi ternyata kenyataan malah berbicara lain. Saya ambil hikmahnya saja,” kata Pak Dadi, legowo.

Meski berusaha lewgowo, sejatinya, Subadi sudah mengeluarkan banyak biaya untuk ikut organisasi yang didirikan Toto Santoso. Tidak hanya saat di KKP-DEC, di Keraton Agung Sejagat, ia juga harus keluar uang. “Kalau dihitung-dihitung ya sudah banyak,” tegasnya.

Uang itu, antara lain dipakai untuk pendaftaran Rp 2,1 juta. Belum untuk iuaran bulanan. Sedangkan operasional, semua biaya sendiri. Terakhir, sebelum mengikuti kirab budaya, Subadi dana peserta lain, harus  membeli seragam keraton seharga Rp 2 juta.

Selain prihatin dan berusaha menerima menjadi salah satu korban halusinasi Toto Santoso, tak ada niat di hati Pak Dadi untuk memperkarakan raja Keraton Agung Sejagat itu. Ia memaafkan orang yang telah memperdayanya itu.

Dengan penuh ketulusan, Pak Dadi menyebut ini musibah. “Iya, menurut saya musibah. Kami mengkoordinasikan ke temen-temen apalagi yang sekarang ini katanya dirugikan, kita coba untuk saling memaafkan. Saya tidak menuntut pak Toto, ini juga musibah bagi beliau,” demikian kata Subadi. (yah)

About redaksi

Check Also

Malem Sabtu, Enake Dolan Nang Alun-alun Purworejo

Hari ini Jum’at. Besok sabtu dan sebentar lagi malem Minggu. Seperti  biasane mendekati malam Minggu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *