Home / DENPUR / Karena Kurawa Menista Abiyasa

Karena Kurawa Menista Abiyasa

            Oleh: Ki Bawang Dandanggulo
                  Dalang Tanpa Wayang

Begitulah Baratayuda. Perang besar yang sering disebut sebagai perang suci ini, dimulai jauh sebelum para Pandawa dan Kurawa tumbuh menjadi ksatria yang saling bersaing. Perang telah dimulai sejak mereka kanak-kanak.

Maka tersebutlah Begawan Abiyasa yang waskita. Sesepuh Astina ini, amat dihormati oleh rakyat seluruh negeri. Sebab, ia bukan hanya begawan yang artinya ahli keselarasan hidup yang setara pemuka agama. Abiyasa minandito setelah lengser dari tahta Astina. Tapi perannya, bukan tidak penting dalam tata kelola negara. Ia tetap seorang yang amat ditunggu setiap kata petuahnya.

Para ksatria Pandawa sangat menghormati eyangnya itu, melebihi apapun. Sebaliknya, Abiyasa juga mengasihi anak-anak Pandu yang perkasa. Kondisi berkebalikan dengan para Kurawa yang kurang dekat dan cenderung tidak hormat. Padahal, mereka juga cucu yang semestinya menghargai eyangnya. Tapi kepada Anak-anak Destarata itu, Abiyasa tetap mengasihi, meski uluran kasih itu, selalu ditampik Kurawa.

Suatu ketika, di tengah perang dingin Kurawa dan Pandawa, Abiyasa medar sabda, mengurai petuah. Petuah penting untuk calon pemimpin. Tapi di pertapaan, hari itu hanya lima ksatria Pandawa yang menghadap, mendengar setiap kalimat yang diucapkan sang begawan.

Tiba-tiba, 100 Kurawa datang. Bukan untuk mendengar sabda eyangnya melainkan minta lenga tala, minyak kekayaan yang akan membuat seseorang tak mempan senjata. Dengan kepongahan Kurawa memaksa Abiyasa menyerahkan lenga tala. Meski sudah dikatakan tidak ada padanya, Kurawa memaksa. Semua berebut menganiaya sang begawan, tidak hanya dengan kata-kata kasar tapi juga dengan pukulan dan tendangan. Terakhir Dursasana meraih kepala Abiyasa dan merenggut ikat kepala hingga orang tua yang dihormati itu terjatuh.

“Engkau akan menemui kehinaan dalam Baratayuda kelak, wahai Kurawa.” Kalimat sepata, sumpah seorang pertapa yang niscaya. Diucapkan begawan Abiyasa sambil menangis. Tangisan yang buat para Pandawa ikut nelangsa.

Baiklah. Penggalan kisah pilu itu, saya petik dari lakon ketika Pandawa dan Kurawa berebut minyak kesaktian lenga tala. Saya tulis itu, untuk mengilustrasikan betapa orang tua selalu memiliki tulah jika dinistakan. Seperti Dursasana yang mati mengenaskan dalam Baratayuda. Saya merinding menuliskan ini karena hari-hari ini banyak cerita anak yang nranyak pada orangtua.(*)

About redaksi

Check Also

Sesok nggo Sholat Ied, Lapangan Plawangan Diresiki

Pagi ini, Selasa, 4 Juni 2019  remaja masjid Fathul Jannah bersama Cornida Nganti, Hargotirto, Kokap …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *