Home / Uncategorized / Jatuh Bangun karena Rongsokan

Jatuh Bangun karena Rongsokan

Bisnisnya dimulai dari kepedulian. Juga rasa iba melihat orang-orang di sekelilingnya yang menganggur. Inilah Priyo. Atau lengkapnya, Priyo Joko Susanto. Di tempatnya ia tinggal, 30 kilo dari pusat kota Jogjakarta, rintisan bisnis yang semula tak terbayangkan, mulai bisa terlihat.

Bisnis ini memang tak pernah dibayangkan, karena harus mengumpulkan barang bekas, bahkan sampah untuk diubah menjadi berlembar-lembar rupiah. Bukan bisnis baru, sesungguhnya, karena menyulap barang bekas menjadi berkah sudah banyak dilakukan orang.

Tapi Priyo termasuk perintis di desanya, Desa Jombokan, Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Pengasih, Kulon Progo. Semula, ia melihat banyak sahabatnya yang tidak bekerja jika musim tanam padi selesai. Mereka menganggur hingga musim panen tiba. Secara kebetulan ia bertemu sahabat lamanya sambil curhat soal kondisi kehidupan desa.

“Saya diajak mencari barang bekas. Di sini disebutnya rosok. Untungnya besar katanya. Jadinya, dengan mengayuh sepeda ontel, kami mencari rosokan. Menyusuri jalan setapak, keluar masuk desa, mengetuk pintu-pintu orang. Hari itu, hasilnya tidak banyak,” kenangnya pada peristiwa beberapa tahun lalu saat ia memulai bisnisnya.

Pagi-pagi, tambahnya mengisahkan perjuangan membangun bisnis, berdua mengayuh sepeda. Dengan penuh keringat membawa rosokan berupa kardus, besi, plastik ke lapak rosok. Lumayan besar hasilnya, apalagi dibandingkan dengan buruh proyek atau pekerja bangunan. Selama tiga bulan, aktivitas itu dijalani. Makin lama, orang mulai melihat lalu minta diajari cara mencari dan memilih rosokan yang laku dijual.

“Akhirnya, orang mulai tahu dan setor rosokan kepada saya. Dalam waktu singkat, saya hanya duduk menerima barang-barang bekas dari banyak pencari rosokan. Mereka yang tidak tahu repotnya mengurus sampah mengatakan, saya kaya mendadak karena setiap hari orang membawa keranjang penuh dagangan,” kenangnya.

Beruntunglah, ia didukung oleh ayahnya, Mbah Kemat yang di kampung itu dikenal sebagai tokoh masyarakat. Jadi, halaman rumah Mbah Kemat diubah oleh Priyo menjadi penampungan sampah. Menumpuk, makin lama makin banyak. Semua orang akhirnya tahu, Priyo adalah juragan rosokan. Proyek-proyek yang lumayan besar juga mulai jatuh ke tangannya. Misalnya saja, ada SD yang membongkar besinya. Lalu, STM Marsudi Luhur yang menjual dua mobilnya. Masih ada lagi, sekolah-sekolah yang melepaskan berkintal-berkintal bukunya.

Suasana hiruk-pikuk yang menyenangkan karena Priyo mampu membuka lapangan kerja untuk orang-orang di sekelilingnya berubah. Anti klimak terjadi saat ada pesaing. Orang yang mencari rosokan pindah ke lapak lain karena selisih harga yang jauh. Dalam beberapa bulan usahanya sepi mendekati kebangkrutan.

Dan, ia bertemu titik terang saat datang ke Ibu Darwati, juragan besar barang-barang bekas di Jogjakarta. Lapak lengkap di daerah Nitikan itu, memberi solusi bagi usahanya yang di ambang kematian. Dari Bu Darwati pula, ia belajar melakukan inovasi, misalnya mendaur ulang barang bekas yang masih bisa diperbaiki atau dijadikan sesuatu yang lebih bermanfaat.

“Alhamdulillah, kami hidup lagi. Ini bisnis yang tidak mudah, karena berhubungan dengan sampah serta persaingan yang kadang tidak sehat. Tapi buat saya, yang penting bisa ikut membantu teman, tetangga, atau saudara agar dapurnya tetap ngebul,” pungkasnya.(cat)

About redaksi

Check Also

Wayahe nang Perpustakaan Nasional, Ini Aturane

Perpustakaan Nasional, kembali dibuka. Tradisi kenormalan baru di tengah pandemik, mulai berlaku. Inilah usaha bersama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *