Isu Munaslub Golkar Muncul, Elite Partai Ingin Bahlil Dekat dengan Prabowo

oleh -1356 Dilihat
oppo_32

Jakarta,KABARNO.Com– Peneliti senior Citra Institude Efrizal merespon terkait merebaknya isu muncul Partai Golkar untuk menggulingkan Bahlil Lahadalia dari kursi Ketua Umum Golkar.

Munculnya isu tersebut menandakan banyak hal, salah satunya adanya resistensi internal terhadap sosok Bahlil.

Dia menyebut, isu tersebut menunjukkan kepemimpinan Bahlil Lahadalia belum cukup mengkonsolidasikan sejumlah masalah di internal Golkar.

” Ditengarai ada yang merasa tak terakomodir atau diabaikan. Ini menandakan ada gejolak dari sejumlah faksi lainnya,” katanya seperti dilansir dari JPNN, Selasa (6/8/2025).

Menurutnya, ada tanda lainnya yakni komunikasi politik internal dalam upaya mengingatkan Bahlil Lahadalia selaku ketua umum, karena gerah Bahlil loyal dengan Jokowi

” Isu munaslub ini juga bisa dimaknai tanda adanya keinginan sebagian elite dari bayang bayang Jokowi,” tuturnya

Dia menambahkan, kemungkinan lainnya yakni isu munaslub sebagai respon para elite Golkar yang tidak suka Bahlil dekat dengan Jokowi. Sebab, presiden ke-7 RI tersebut telah memastikan lebih memilih dan mendukung Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Efriza menyatakan, para elite partai berlambang pohon beringin ini, ingin supaya Bahlil lebih loyal kepada Presiden Prabowo Subianto.

” Kalau tidak, Prabowo dan Gerindra bisa lebih nyaman berdekatan dengan PDIP serta Megawati Soekarnoputri.

Sementara itu, pemilihan DPD Golkar Jateng yang sudah melakukan Musda telah berhasil memilih ketua baru secara musyawarah dan mufakat yaitu Muhamad Saleh.

Hingga kini belum ada pelantikan secara resmi kepengurusan terbaru. Namun muncul isu yang berkembang bahwa para kader yang sudah tua mulai dipinggurkan dan akan diisi pengurus struktural baru dari lingkungan anak muda., yang diduga banyak titipan serta diduga banyak KKN.

” Yang jelas pengurus sudah tua meski masih energik dan mantan pengurus Golkar Jateng tidak dimanusiakan,” kata sumber yang dipercaya di lingkungan Golkar.(JPNN/sup)