Innalillahi, Kiai Harry Moekti Tutup Usia

oleh -91 Dilihat
oleh

InilahHarry Moekti. Nama yang menghias panggung musik Indonesia, lewat perjalanan karirnya yang panjang. Seorang rocker yang menikmati kejayaan musik di era 80-90. Namanya, ikut mewarnai kolase perkembangan musik di tanah air.

Lahir di Cimahi, 25 Maret 1957, Harry Moekti tutup usia pada pukul 20.49 WIB tadi malam, Minggu, 24 Juni 2018. Usianya genap 62 tahun empat bulan. Tentulah, kepergian Kang Harry yang kini, menekuni Islam dan menjadi seorang pendakwah, mengejutkan semua orang. Ia sedang berada di Bandung, karena tanggal 25 Juni ini, akan berceramah di Baros, Cimahi.

Perjalanan Harry Moekti sebelum hijrah dan menjadi pendakwah, sangat berliku. Ia memahat popularitasnya dari sangat bawah. Hari-harinya di masa silam, juga tidak terlampau menyenangkan, meski ayahnya seorang militer.

Nama Harry Moekti menjadi nama panggung yang membuatnya melambung. Padahal nama aslinya adalah Hariadi Wibowo, sedang Moekti adalah nama adiknya. Cerita tentang nama Harry Moekti berawal dari pertanyaan yang selalu berulang, “Harry yang mana?” yang dijawab spontan, Harry yang kakaknya Moekti.

Cimahi dan Bandung, menjadi kota yang membesarkannya. Lahir hingga SMA, ia ada di dua kota itu. Sejak masih SD dan SMP, Harry sudah aktif di banyak kelompok musik. Mulai dari vokal grup hingga berbagai lomba diikuti.

Lalu, pindah ke Semarang, mengikuti penugasan sang ayah. Menginjak dewasa di Semarang, Harry mulai bekerja, meski yang disebut bekerja adalah menjadi room boy di Hotel Patra Jasa Semarang.

Tapi di ibukota Provinsi Jawa Tengah itulah, Harry bertemu dengan musik, dunia yang kelak membesarkan namanya. Bersama sahabat-sahabatnya, setelah hanya bertahan satu tahun sebagai room boy, Harry membentuk grup band bernama Darodox. Nama itu, tak lain adalah plesetan dari kata bahaas Jawa nderedeg atau gemetar.

Dari Semarang, ia kembali ke Bandung, setelah ayahnya wafat. Itu terjadi ditahun 1980. Karir bermusiknya, semakin terasah, di tanah kelahirannya. Sejumlah band, ia bangun bersama anak-anak muda kota Bandung: Orbit Band, Primas Band, New Bloodly Band.

Dua tahun di Bandung, ia memutuskan pindah ke Jakarta untuk memahat karir secara lebih profesional. Ia bergebung dengan Makara Band hingga 1985. Pada tahun yang sama ada dua pencapaian lain yang ia torehkan. Bersolo karir serta menjadi personil Krakatau  yang membuat namanya makin bersinar.

Dan, di puncak karirnya sebagai musisi, judul-judul lagunya populer hingga kini. Misalnya saja, Ada Kamu, Lintas Melawai, atau Aku Suka Kamu Suka. Tapi di puncak karirnya, ada kegelisahan yang membawanya tekun mendalami Islam. Dari sanalah, ia hijrah untuk kemudian menjadi pendakwah.

“Masih suka pengin nyanyi? Pengin banget pengin tampil di panggung iya…sampe sekarang iya tapi menahan tapi berat banget tapi saya baisa nahan itu. Sekali sekali di panggung suka nyanyi,” katanya dalam sebuah video tentang perjalanan hidupnya yang diunggah di akun sosmednya.

Jadwal dakwah Harry Moekti, rupanya hampir sepadan seperti jadwal manggungnya, di masa kejayaannya dulu. Nyaris setiap hari, selalu ada undangan berceramah. Termasuk, hari ini, 25 Juni 2018. Hanya beberapa jam sebelum mengisi ceramah di Baros, Cimahi, Kiai Harry Moekti dipanggil Tuhan. Innalillahi Wainnailaihi Roji’un.(kib)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.