Oleh : Gunoto Saparie
Idulfitri selalu menjadi momen yang dinanti-nanti oleh umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Selain sebagai hari kemenangan, Idulfitri juga merupakan waktu berkumpul bersama keluarga, berbagi kebahagiaan, dan merayakan hasil dari perjalanan puasa selama satu bulan. Namun, tak jarang, momen ini juga disertai dengan fenomena inflasi yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. Menjelang Idulfitri 2025, berbagai faktor pemicu inflasi perlu diwaspadai oleh masyarakat agar mereka dapat menghadapi lonjakan harga barang dan jasa yang sering kali terjadi pada periode ini.
Ada beberapa pemicu inflasi menjelang Idulfitri. Sebutlah, misalnya peningkatan permintaan barang dan jasa. Tradisi yang melibatkan persiapan makanan, pakaian baru, dan perayaan lainnya menyebabkan banyak masyarakat melakukan belanja dalam jumlah besar. Di pasar permintaan yang tinggi sering kali tidak sebanding dengan penawaran barang, yang mengakibatkan harga barang menjadi melonjak. Peningkatan permintaan ini berlaku untuk berbagai komoditas seperti sembako, daging, bahan baku kue, hingga pakaian lebaran.
Harus diakui, dampak pandemi global yang masih terasa di beberapa sektor, ditambah dengan ketegangan ekonomi global dan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia, juga dapat mengganggu rantai pasokan barang. Ketika pasokan terganggu, distribusi barang menjadi terhambat, dan harga barang-barang kebutuhan pun meningkat. Misalnya, harga bahan pokok seperti cabai, bawang, dan daging sering kali meroket menjelang Idulfitri karena pasokan yang terbatas. Hal ini memperburuk inflasi yang dirasakan masyarakat.
Harga bahan bakar dan energi lainnya yang cenderung meningkat menjelang Idulfitri juga turut memberi dampak pada inflasi. Kenaikan harga bahan bakar sering kali menyebabkan biaya transportasi dan distribusi barang-barang menjadi lebih mahal. Ini bisa memperburuk harga barang yang dijual di pasaran, yang pada gilirannya memengaruhi daya beli masyarakat. Masyarakat harus menyadari bahwa biaya transportasi yang lebih tinggi akan berpengaruh pada harga barang kebutuhan sehari-hari.
Kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia juga dapat memengaruhi inflasi. Kebijakan suku bunga dan pengaturan jumlah uang beredar akan memengaruhi daya beli masyarakat. Jika kebijakan moneter tidak tepat, maka inflasi bisa melonjak lebih tinggi, terutama saat permintaan barang meningkat. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam menetapkan harga pangan, tarif transportasi, dan subsidi juga dapat memengaruhi angka inflasi.
Waspada Lonjakan Harga Barang
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai adanya lonjakan harga barang yang tidak wajar atau terlalu tinggi. Misalnya, harga daging yang melonjak sangat tajam menjelang Idulfitri, atau kenaikan harga sembako yang tidak sesuai dengan pola distribusi. Hal ini sering kali terjadi karena adanya permainan harga oleh oknum pedagang. Masyarakat sebaiknya membandingkan harga antar pasar atau tempat belanja untuk memastikan mereka mendapatkan harga yang wajar.
Di samping itu, karena permintaan yang meningkat menjelang Idul Fitri, anggaran belanja keluarga sering kali membengkak. Masyarakat perlu menyusun anggaran yang lebih matang untuk mempersiapkan kebutuhan Idul Fitri. Ini termasuk berbelanja dengan bijak, menghindari pembelian impulsif, dan memprioritaskan barang-barang yang benar-benar diperlukan. Selain itu, masyarakat dapat menghindari pembelian dalam jumlah besar yang dapat menyebabkan pemborosan.
Dalam situasi inflasi, tidak jarang terdapat oknum pedagang yang memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga barang secara sepihak. Ini sering kali terjadi pada produk-produk yang sangat dibutuhkan, seperti daging sapi, ayam, dan bahan pokok lainnya. Masyarakat perlu berhati-hati terhadap praktik-praktik ini dan melaporkan kepada pihak berwenang jika menemukan adanya kenaikan harga yang tidak wajar.
Meskipun Idulfitri identik dengan pembelanjaan besar-besaran, masyarakat sebaiknya tetap menjaga keseimbangan antara konsumsi dan tabungan. Jangan sampai euforia menjelang hari raya menyebabkan pengeluaran yang berlebihan dan berdampak pada keuangan keluarga. Menjaga tabungan dan memprioritaskan kebutuhan yang paling penting akan membantu masyarakat menghadapi tekanan inflasi dengan lebih baik.
Kebijakan ekonomi dari pemerintah dan Bank Indonesia memang dapat berubah dengan cepat, terutama dalam menghadapi lonjakan inflasi. Masyarakat perlu terus mengikuti informasi tentang kebijakan terbaru yang berkaitan dengan harga barang dan subsidi yang diberikan pemerintah. Dengan begitu, masyarakat dapat menyesuaikan pengelolaan keuangan mereka agar lebih efisien.
Inflasi menjelang Idulfitri 2025 menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Beberapa faktor pemicu seperti peningkatan permintaan barang, gangguan rantai pasokan, kenaikan harga energi, serta kebijakan ekonomi yang berubah dapat menyebabkan lonjakan harga yang memengaruhi daya beli. Masyarakat perlu mewaspadai potensi kenaikan harga yang tidak wajar, serta menyusun anggaran dengan bijak untuk menghadapi inflasi. Dengan kewaspadaan dan pengelolaan keuangan yang hati-hati, masyarakat dapat tetap merayakan Idulfitri dengan bahagia tanpa terbebani oleh lonjakan harga yang signifikan.(*)
Gunoto Saparie adalah Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Tengah
