Home / KANGBARNO / Haru-biru Saat Pak Poyo Ketemu Mbah Rusdi

Haru-biru Saat Pak Poyo Ketemu Mbah Rusdi

Dua sahabat itu, sudah tidak berjumpa lebih dari 20 tahun. Lalu, tiba-tiba saja, Pak Supoyo atau biasa dipanggil Pak Poyo nyasar sampai Jombokarto alias Jombokan. Dan, bertemulan, pria asli Bantul ini, dengan Mbah Rusdi, sejawatnya saat masih kerja di restorasi PJKA.

Haru-buru terjadi. Ada tangis tertahan saat Pak Poyo memberi pelukan ringan kepada Mbah Rusdi. Dulu, Pak Poyo adalah pramugara, sedang Mbah Rusdi Restorator atau mandor di restoran kereta api.

Dua kakek itu, memang sudah sangat lama  tidak pernah bertemu, setelah pensiun. Dengan ditemani teh manis hangat dan cemilan, keduanya bernostaliga dengan gayeng. Tertawa lepas setelah haru berlalu. Bermacam obrolan mengalir, ngalor-ngidul, termasuk soal-soal nostalgia selama di kereta.

Pak Poyo memanggil Mbah Rusdi dengan sebutan Mandor atau ndor.  Tentu dengan intonasi yang sangat akrab. “Ndor alhamdulillah aku iso ketemu omahe sampean, isik kelingan anak buahe sampean iki ora,” katanya, ketika pertama bertemu.

“Welah lha kok iso tekan kene kowe Yo,” sambut Mbah Rusdi dengan uluran tangan yang kemudian disambut dengan rangkulan. Hangat dan bersahabat.

“Alhamdulillah banget sampean isik sehat kuat, isik kelingan konco-konco ora ndor,” tanya Pak Poyo.

“Yo isik kelingan tho Yo,” jawabnya singkat, maklum karena usia, pendengaran Mbah Rusdi sudah sangat berkurang.

“Aku lho ndor arep dolan mrene wis ket mbiyen-mbiyen tapi gak pernah kelakon,” ungkap Pak Poyo dengan dialeg yang terasamasih sangat Jawa Timur. Maklum, selama bertahun-tahun, dua sahabat itu dulunya  memang bekerja di kereta api yang markasnya di Surabaya.

“Aku bersyukur tenan isik iso ketemu mandor, jebulno sampean isik gagah yo ndor.”

“Yo gagah gagahe wong tuwek yo koyo ngene Yo,” kata Mbah Rusdi yang sesekali memandangi sahabatnya itu dengan lekat, seolah ingin mengundang kembali hari-hari ketika mereka sama-sama masih muda.(meidi)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *