Home / KANGBARNO / Hari Ini & Sebuah Kisah…

Hari Ini & Sebuah Kisah…

Hari ini, tanggal 28 November, jadi 11 November sudah lewat 18 hari. Tapi saya ingin menuliskan ini, dengan segenap hati. Tulisan biasa-biasa saja, sebenarnya, sekadar mengingat kelahiran tokoh besar yang dalam fase hidupnya, mengobarkan nasionalisme di sekitar kampung saya.

Oleh:
H Dwijo Utomo
Wartawan Senior

11 November 1785. Di istana Mataram, Bendara Raden Mas Ontowiryo, lahir. Tokoh kharismatik ini, kelak dikenal sebagai Kanjeng Pangeran Diponegoro. Ialah pengobar Perang Jawa yang masyur itu.

Diponegoro tutup usia di pengasingan, 8 Januari 1855, 25 tahun setelah kisah penangkapannya yang dramatik.  Peristiwa ironis yang ikonik itu terjadi, pada 28 Maret, 189 tahun lalu. Peristiwa yang sekaligus menandai akhir Perang Jawa.

Kanjeng Pangeran Diponegoro, sang Ratu Adil Tanah Jawi, ditangkap dalam sebuah tipudaya yang menyedihkan. Dan, kesedihan yang mendalam, selalu mengganggu setiap kali saya pulang kampung kemudian  menapaktilasi jejak sejarah njeng pengeran di punggung Menoreh.

Hari itu, bulan puasa berakhir pada 27 Maret 1830. Bersama itu, berakhir pula sejarah Perang Jawa yang nggegirisi. Sebab, pada hari kemenangan tanggal 1 Syawal, Kanjeng Pangeran Diponegoro justru kalah oleh Jenderal de Kock.

Saat-saat terakhir perjuangan sang pangeran, dihabiskan di Meteseh. Aliran Kali Progo menjadi saksi bisu sebelum putra Sri Sultan Hamengku Buwono III ini, berangkat ke Kantor Karisidenan Kedu yang hanya beberapa meter, bertemu penguasa militer Belanda untuk bersilaturahmi di hari pertama Idul Fitri.

Perjuangan dan perjalanan sang Ratu Adil, sudah sangat panjang. Lima tahun memimpin Perang Jawa, tapak kaki Diponegoro tersebar, nyaris di seluruh tlatah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tapi Menoreh dipilih menjadi persinggahan terakhir sebelum menyudahi perang akibat siasat de Kock yang pekok.

Jejak Kanjeng Pangeran di sekitar perbukitan Menoreh, menyebar mulai dari Magelang, Kulon Progo, Begelen, terus ke barat hingga Kebumen. Selama menjalani pekan terakhir sebelum memasuki Bulan Ramadhan,   Diponegoro berada di Remokamal, Begelen, Purworejo. Lalu, menyisir ke timur menapaki Menoreh, sebelum menetap di Meteseh.

Memang, Menoreh menjadi kunci pertahanan Perang Suci Jawa. Sejak mengangkat bendera perang, kemudian membangun markas pertama di Selarong, Kanjeng Pangeran Diponegoro memilih Dekso, di punggung Menoreh yang masuk tlatah Kulon Progo. Menurut buku Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro buah karya Dr Purwadi, M.Hum, pangeran kekasih rakyat kecil ini, memindahkan markasnya di Selarong ke Dekso pada 4 November 1825.

Sepanjang hampir satu tahun di Dekso atau juga disebut Jekso, pasukan Diponegoro memetik banyak kemenangan. Sebab sepanjang awal Perang Jawa berkobar, puncak kemenangan terjadi antara 1825 hingga 1826.  Itu artinya, saat kajeng pangeran bermarkas di Dekso, karena selanjutnya markas digeser lagi pada 4 Agustus 1826, seperti tertulis dalam buku tulisan Doktor Purwadi.

Di Dekso pula, Raden Mas Ontowiryo yang merupakan putra sulung Ngarso Dalem Sri Sultan HB III, dinobatkan sebagai sultan oleh rakyatnya. Gelarnya, Sultan Abdulhamid Erucokro Amirulmukminin Sayidin Panotogomo Kalifatullah Tanah Jawa.

Begitulah. Erucokro dalam penggalan Jongko Joyoboyo diyakini sebagai Ratu Adil yang akan membawa tanah Jawa mencapai keselarasan hidup. Dan, Diponegoro, bagi orang Jawa adalah sang Erucokro, atau lengkapnya Sultan Abdulhamid Erucokro Amirulmukminin Sayidin Panotogomo Kalifatullah Tanah Jawa.(*)

About redaksi

Check Also

Nyanangaken Gempar, Pak Penewu Nandur Tomat

Sendangsari, kabarno.com-Wau enjang, 24 Juli 2020, Pak Panewu Pengasih, Triyanto Raharjo, S.Sos., M.Si mandegani Pencanangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *