Hankamrata 4.0: Pertahanan Rakyat di Era Rudal dan Drone

oleh -1952 Dilihat
Oplus_131072

Oleh : Sudadi 

Menjelang usia ke-80 tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI), pertanyaan besar kembali muncul: apakah doktrin Hankamrata (Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta) masih relevan di tengah wajah peperangan modern yang kian ditentukan oleh kecanggihan teknologi?

Hankamrata lahir dari pengalaman bangsa Indonesia dalam perang kemerdekaan. Kala itu, rakyat dipanggil langsung ke medan tempur, dari petani hingga pelajar, mengisi barisan perjuangan dengan semangat tanpa pamrih. Doktrin ini menekankan bahwa pertahanan bukan monopoli militer reguler, melainkan tanggung jawab seluruh rakyat. Namun, apakah pola lama ini masih relevan di era rudal balistik, drone kamikaze, dan perang siber?

Konflik kontemporer memberikan jawabannya. Serangan Iran ke Israel April lalu memperlihatkan perang modern dalam wujud paling nyata: ratusan rudal balistik dan drone dilepaskan dari ribuan kilometer jauhnya, dihadang oleh Iron Dome, Arrow, dan David’s Sling milik Israel. Tidak ada pertempuran tatap muka, yang ada hanyalah duel algoritma dan presisi sistem pertahanan udara.

Di Gaza, roket Hamas sebagian besar tak mencapai sasaran karena dicegat Iron Dome. Begitu juga di Ukraina, jalannya perang sering ditentukan oleh suplai teknologi mutakhir dari pihak luar, bukan semata strategi lapangan. Semua ini menunjukkan: faktor penentu kini bukan lagi jumlah pasukan, tetapi penguasaan teknologi.

Bagi Indonesia, hal ini menjadi pengingat bahwa Hankamrata perlu ditafsirkan ulang. Semangat keterlibatan rakyat tetap relevan, namun bentuknya harus menyesuaikan era. Rakyat tidak lagi dipanggil mengangkat senjata massal, melainkan memperkuat pertahanan dalam ranah non-konvensional:

Pertahanan digital untuk melawan hoaks, disinformasi, dan perang opini.

Ketahanan siber guna menjaga infrastruktur vital.

Kemandirian industri pertahanan, agar bangsa tidak bergantung pada impor alutsista.

Ketahanan energi dan logistik yang krusial di masa krisis.

Banyak negara sudah bergerak ke arah ini. Finlandia mempertahankan konsep total defense, tetapi kini menitikberatkan pada kesiapan menghadapi perang hibrida dan ancaman siber. Singapura melalui National Service menyiapkan warganya bukan hanya untuk pertempuran, tetapi juga untuk mendukung pertahanan lewat keahlian teknologi, medis, dan logistik.

Dari sana kita belajar, Hankamrata tetap relevan, tetapi harus dimodernisasi. Rakyat tidak lagi cukup diposisikan sebagai pasukan cadangan bersenjata, melainkan sebagai basis ketahanan teknologi, informasi, dan ekonomi nasional.

Menyongsong HUT ke-80 TNI, doktrin Hankamrata tidak seharusnya hanya diperingati sebagai warisan sejarah, melainkan diperbarui menjadi strategi adaptif. Jika dulu bambu runcing melambangkan perlawanan rakyat, maka hari ini “bambu runcing” itu berbentuk enkripsi digital, kecerdasan buatan, dan kemandirian teknologi bangsa.(*)

Sudadi, pemerhati isu pertahanan dan veteran pasukan perdamaian PBB.