Home / KANGBARNO / Dua Simbah, di antara Sisa Gagah

Dua Simbah, di antara Sisa Gagah

Pagi-pagi memang waktunya bagi para pensiunan menikmati hari. Ngisis, nyari angin, sambil mat-matan mengenang masa muda, sekadar ngrasani anak-cucu yang makin besar-besar. Atau, sedikit-sedikit ikut mbahas soal-soal aktuil.

Selepas sholat Subuh, lalu jalan kaki keliling pekarangan sinambi olahraga. Setelah itu, duduk-duduk sambil menunggu sarapan pagi. Rasane memang mulyo tenan: duduk di kursi rotan yang legendaris, dengan silo tumpang yang khas atau mengangkat kaki sebelah dengan gagah.

Beitulah. Semua adalah bagian dari perjalanan hidup mereka yang bukan hanya sudah purna tugas, melainkan juga telah sepuh. Kini, di antara sisa gagah, para simbah bisa jegang menikmati hari-hari. Mereka, merupakan generasi Perang Kemerdekaan yang bisa melihat Indonesia memasuki melenial.

“Iya kita ini komplet. Pernah mengalami jaman Belanda, Jepang, Merdeka. Terus jaman Orde Lama, terus ontran-ontran Gestapu, masuk Orde Baru, sampai sekarang,” kata Mbahrus, simbah yang di identitasnya tercatat lahir di tahun 1930.

Bagi orang Jawa, sepuh  tidak sekadar usianya yang senja. Sepuh juga dimaknai dengan seribu arti, agar tidak hanya umur yang telanjur tua, tapi juga ketuaan yang bermakna. Minimal bisa uwur-uwur, pitutur, lan sembur.

“Yo wes ngene iki. Karang wes wong tuwo. Yo disehat-sehatke, tapi ya sebentar-sebentar masuk angin,” kata Mbah Kemat, seorang tokoh masyarakat yang kampiun tentang tubuh yang ringkih digerogoti usia.

Bagi masyarakat Jombokarto (nama Jombokan di media sosial) Mbahmat atau bisa juga dipanggil Lek Kemat, memang sosok penting. Ia penggerak banyak kegiatan kemasyarakatan, karena pergaulannya sangat luas tur luwes.

Jaman nom-noman, Lekmat termasuk tokoh pemuda yang peng-pengan. Sisa ketokohannya masih terlihat dengan banyak kawan-kawannya satu angkatan atau kawan di bawah generasinya, yang datang ke rumah. Sampai saat ini pun, rumahnya di seberang Pemakaman Kauman, selalu ramai dengan mereka yang bercengkrama.

Meski kini lebih banyak di rumah atau sesekali dibonceng salah seorang putranya ke Masjid Jombokan, Mbahmat tetap seorang tokoh. Pada momen-momen tertentu seperti menjelang gelaran nyadran, suaranya masih didengarkan.  Dalam waktu dekat, bersama Pak Dukuh, dan tokoh-tokoh desa, Mbahmat menggerakkan para pemuda untuk reresik makam.

“Ini tradisi poro leluhur. Walaupun sudah tidak segayeng dulu, tapi kami masih berusaha nguri-uri, mempertahankan agar anak cucu tahu apa itu nyadran. Pelaksanaannya masih sak untoro, sebulan lagi, tapi sebelum itu, kita semua reresik makam ben padang,” katanya.

Memang, sebelum memasuki Ramadhan, masyarakat Jombokan memiliki tradisi nyadran. Membuat kenduri yang melibatkan semua orang kampung. Tahun ini, menurut rencana akan dimulai pada 8 Mei di Makam Mbanaran, lalu Makam Kauman, dan Makam Mbujidan. Sebuah kearifan lokal yang kental nilai-nilai luhur, meski kehadirannya sudah semakin mamring karena tergeser oleh banyak kemajuan zaman.(mg)

About redaksi

Check Also

Cungkup Makam Kiai Sorokusumo Mbanaran Rusak

Cungkup itu, terlihat tua. Bangunannya dengan jelas mengabarkan kerentaan: pendek, kusam karena lumut, genteng jadul, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *