Home / KANGBARNO / Di Balik Sukses Gayeng Regeng Mlaku Bareng

Di Balik Sukses Gayeng Regeng Mlaku Bareng

Chika Jessica, artis  cantik yang pagi itu terlihat segar, menyapa 4.000 warga Kulon Progo. Hari masih hangat, karena matahari belum terlalu tinggi. Senam Ayo Bergerak dimulai, menandai dibukanya Gayeng Regeng Mlaku Bareng (GRMB).

Oleh: Irwan
Ketua Panitia GRMB

Alhamdulillah. Puji Gusti. Semua berakhir dengan baik. Hajatan akbar perantau Kulon Progo di Jabodetabek, meniti klimaks  pada Ahad pagi, 13 Oktober 2019. Plaza Tugu Api Pancasila Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menjadi saksi gayeng dan regengnya pertemuan 4.000 warga Kulon Progo.

Tapi di balik suasana gayeng tur regeng di Ahad pagi, ada yang lebih gayeng dan regeng di malam hari. Mereka yang gayeng-gayengan dan  regeng-regengan adalah para panitia yang sudah sejak dua bulan sebelumnya, mempersiapkan rangkaian kegiatan besar ini. Semua saling membantu, bahu-membahu, merapatkan barisan dalam semangat kholobis kunthul baris.

Diskusi, perdebatan, dan semua kompromi dilakukan, bahkan hingga sepekan sebelum tanggal 13 Oktober. Soal lokasi misalnya, juga baru kelar dua hari menuju hari Minggu, akibat peserta yang mencapai ribuan. Lokasi yang tiba-tiba berubah, membuat semua skema panitia ikut bergeser.

Semula, tempatnya adalah Parkir Selatan TMII, tapi harus dipindah ke Parkir Utara. Itupun masih belum fix, sampai kemudian diputuskan (dalam rapat bersama panitia dengan managemen TMII) acara mengambil tempat di Tugu Api Pancasila. Selesaikah? Belum, ternyata. Sebab, masih ada  negosiasi yang cukup rumit, terkait ubo-rampe yang menyertai sewa lokasi.

Saya harus bolak-balik TMII, menemui semua pihak. Sempat mentok di devisi marketing, jalan keluar diberikan oleh Pak Jaya dari Koordinator Unit Usaha TMII dengan mempertemukan  saya dengan direksi yang kemudian memberi keputusan melegakan.

Waktu seperti mlayu. Tahu-tahu sudah malam Minggu. Semua panitia berkumpul di Kuncungan depan Tugu Api Pancasila TMII. Lokasi dipetakan, mulai dari tata panggung, tata bazaar, hingga kesiapan semua man power.

Mas Tommy, Wakil Ketua yang lincah, mengomandoi apa-apa yang harus segera dikerjakan. Ada Pak Agus Suharjo dan Pak Pardio yang mengurusi sekretarian terlihat masih sibuk menerima warga Kulon Progo yang ingin mengambil kaos. Menjelang sore hari, Mas Rais yang bertanggunjawab pada bazaar, melakukan rapat kecil dengan peserta bazaar.

Mbah Yatno Alie Monsa, tak kalah sibuk. Tokoh KPDJ ini, memantau secara ketat kesiapan anak-anak muda Kulon Progo di Jakarta (KPDJ), karena di pundak mereka beban terberat diletakkan.  Juga Pak Dwi Marsudi yang mememimpin 10 fogografer KPDJ.

Sementara itu, di sebuah sudut, ada Bu Tutik yang selalu murah senyum. Padahal, tugasnya sangat berat karena priyayi Sogan ini, menjadi bendahara GRMB yang mengatur cashflow panitia.

Mendekat gelap di sore hari, suasana semakin riuh. Pak Naryo yang selalu siap dengan kertas rundown, rawuh tergopoh. Merangkak malam, Pak Kardi yang merupakan Ketua I Bakar PKP juga rawuh mengevaluasi seluruh kesiapan.

Pak Hasto, Pak Tedjo, dan Pak Isnanta sebelum jalan sehat.

Jam delapan malam, ada kejutan yang membahagiakan. Sebab, tiba-tiba, Pak Isnanta (Deputi 3 Bidang Pembudayaan Olahraga Kemenpora) rawuh dengan gagah. Saya menyambut sambil melaporkan beberapa hal. Lalu, Pak Tomo, wakil ketua panitia yang akrab disapa Mas Tommy, mangajak Pak Is yang kelahiran Kalibawang, menikmati angkringan.

Saya, Pak Kardi, Pak Pardio mendampingi Pak Is menikmati jadah goreng, karena Mas Tommy harus memberikan arahan kepada KPDJ yang malam itu sudah pepak, berkumpul semua. Pak Pardio pamit, karena urusan sekretariat belum sepenuhnya selesai.

Jam 10 malam, Pak Isnanta pamit kondur. Juga Pak Kardi. Tapi panitia lain, masih bertahan hingga menjelang fajar. Hanya Pak Agus Suharjo yang mohon diri pada jam 1 pagi. Hingga jam tiga sebelum saya menyerah oleh lelah, saya melihat kesibukan terus  terjadi. Mas Rais masih terus menulis, entah apa yang ditulis. Pak Pardio juga. Bersama mereka ada Pak Dalaji, Pak Kirman, dan panitia yang lain. Sedangkan KPDJ hilir-mudik menata Airku dan roti untuk peserta esok hari.

Sudah. Pagi datang bersama kepanikan, karena urusan bendera start sejak semalam belum terpecahkan. Beruntunglah, pada detik-deetik terakhir, Pak Supardio mengambil keputusan kreatif: membuat bendera sendiri dari kain putih diberi garis hitam memakai lakban besar.

Sebelum Pak Pardio yang tokoh Ikabarata menyelamatkan suasana, sejatinya saya sudah secara diam-diam, menyiapkan alternatif. Sejak semalam (setelah solusi bendera start buntu) saya minta dibawakan sarung Bali dari rumah. Apa boleh buat, jika benar-benar tidak ada bendera, sarung Bali yang belang-belang layaknya bendera start itu akan saya korbankan untuk dirobek menjadi bendera.

Tokoh-tokoh Kulon Progo jalan sehat bersama Pak Hasto.

Tapi Puji Gusti, semua teratas. Jalan sehat diberangkatkan tepat jam tujuh pagi. Tokoh-tokoh utama masyarakat Kulon Progo rawuh semua: Pak Hasto (Kepala BKKBN), Pak Tedjo (Wakil Bupati Kulon Progo), Bu Akhid (Ketua DPRD Kulon Progo) Prof Bedjo (Mantan Rektor UNJ asli Kalibiru), Raden Isnanta (Deputi 3 Kemenpora asli Kalibawang), Brigjen TNI Anton Sudarto yang asli Wates, Brigjen Pol Wakin Maradiwiyono (sesepuh PPKP) yang kelahiran Desa Sogan.

Bersama para tokoh, hadir 4.000 warga Kulon Progo. Ada yang ikut secara personal, tapi lebih banyak yang bergabung dalam paguyuban. Total ada 130 paguyuban perantau Kulon Progo di Jakarta, Banten, Jawa Barat. 88 paguyuban yang sudah berada di bawah naungan Badan Koordinasi Paguyuban Kulon Progo (Bakor PKP), sedang sisanya belum bergabung.

Hanya tidur satu jam, saya bangun dan lekas-lekas bersiap. Sengaja, saya tidak memakai kaos panitia, agar lebih leluasa bergerak. Toh panitia atau beberapa karyawan TMII yang terkait acara ini, sudah mengenali saya. Kaos seragam baru saya pakai pada detik pertama acara dimulai dengan suara Ketua Umum Bakor PKP, Haji Agus Riyanto memompa semangat untuk berkumpul di tengah plaza.

Saya melemparkan pandangan. Menyapu ke kejauhan. Alhamdulillah. Sekali lagi, ada syukur yang saya lafalkan dalam batin. Ribuan orang menutup area Plaza Tugu Api Pancasila. Itu artinya, target 4.000 orang tercapai. Semua siap berdoa untuk kemudian senam Ayo Bergerak, sebelum akhirnya jalan sehat mengelilingi Taman Mini.

Anak-anak muda Kulon Progo di Jakarta (KPDJ) menjadi tulang punggung kesuksesan GRMB.

Meski deg-degan (sebab harus mengorganisir acara besar yang melibatkan ribuan massa) saya yakin bisa. Lalu, semakin yakin, acara ini akan berjalan lancar, setelah tetua Kulon Progo di Jakarta (KPDJ) menyatakan dukungan. Pak Dwi Marsudi dan Mbah Alie Monsa, sudah sejak awal tegas menyatakan siap mengerahkan pasukan KPDJ.

Nyatalah pagi itu. Bregodo KPDJ dengan kaos biru tua berlogo GRMB di tengah-tengahnya, sudah berpacak baris sejak acara belum dimulai. Mereka seolah sudah paham benar dengan tugasnya. Sempat briefing sebentar, semua menyebar, menempati posnya masing-masing.

Saya percaya, sekarang. Semua sudah sesuai harapan. Anak-anak muda KPDJ yang dikenal trengginas, cak-cek, dan serba kompak, seperti memberi jaminan GRMB bisa digelar dalam suasana yang benar-benar gayeng.

Maka begitulah. Sudah sejak pagi buta, peserta dengan kaos putih berlogo GRMB yang datang bergelombang, dilayani anak-anak muda KPDJ dengan baik. Dalam sekejap, semua tumplek-blek di Tugu Api Pancasila TMII. Ambyarrr. (*)

About yadi haryadi

Check Also

Karena Bapak-ibu selalu Saboyo Mukti Saboyo Pati

Semula, ini tulisan personal. Tulisan di buku harian yang sinengker. Tidak untuk dibaca khalayak. Tapi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *