Home / KEMAT (page 10)

KEMAT

Ki Jurumertani-4: Arsitek Kemenangan Danang Sutowijoyo

Namanya, memang tidak sepopular Ki Ageng Pemanahan, penerima alas Menthaok, yang kemudian menjadi Kerajaan Mataram. Tapi sejarah mencatat, perannya untuk Mataram, tidak kecil, bahkan sejak Pemahanan kerabat sekaligus sahabatnya itu, masih mengabdi di Pajang. Lihat saja, bagaimana ia yang menjadi sutradara kemenangan Danang Sutowijoyo atas musuh Jaka Tingkir, Arya Penangsang. …

Read More »

Ki Jurumertani-3: Oleh-oleh dari Ki Juru

“Monggo kulo derekaken sowan Kyai Hageng Pemanahan,” kata Ki Bekel Hastono Sumitro, lembut. Saya masih mengatur pernafasan, usai dihantam hawa dingin yang misterius. Untuk beberapa saat, saya masih berada di dekat nisan buntung. Ki bekel, juru kunci yang sudah 25 tahun menjadi abdi dalem keraton, masih menemani saya. Berbincang tetang …

Read More »

Ki Jurumertani-2: Penasehat Utama Raja-raja Jawa

Saya mencari tempat untuk menghadap. Menghadap Ki Jurumertani yang memiliki peran istimewa dalam sejarah Pajang dan Mataram. Entah mengapa, nisan Ki Jurumertani dipisahkan. Tidak disatukan dengan Ki Ageng Pemanahan, Nyai Ageng Pemahanan, serta Nyai Ageng Pati yang satu deret, satu undakan. Mungkin untuk memberi celah antar nisan, agar peziarah bisa …

Read More »

Ki Jurumertani-1: Mendampingi Pemimpin Hingga Nanti

Hari itu, Jumat Pon. Jumat yang keramat di Pesarean Kasenapaten. Kasenapaten adalah sebutan akrab, yang biasa dilafalkan para abdi dalem dan orang-orang di sekitar Kagungandalem Pasarean Hastana Kitha Hageng, makam raja-raja Mataram di Kotagede. Saya memang sengaja, bertetirah pada Jumat Pon yang sudah sejak malam hari banyak yang melakukan tahlil …

Read More »

Pertapaan Kembang Lampir-8:

Ki Giring merinding. Terpana dalam diam. Ia tak menyangka, kepergiannya ke ladang, adalah cara Tuhan agar air kelapa yang berisi wahyu keraton itu, diminum oleh sahabatnya sendiri. Sahabat sekaligus kerabatnya, Ki Ageng Pemanahan, yang memang lebih gentur tapane, lebih kuat bertirakat, sehingga dipilih sebagai peminum air kelapa tempat berdiam Gagak …

Read More »

Kembang Lampir-7: Kepastian Wahyu Gagak Emprit

Tersebutlah Ki Ageng Pemanahan, tokoh sakti dari Pajang yang mendapat pisungsung Alas Menthaok. Trah Brawijaya Pamungkas ini, tengah mempersiapkan diri, untuk membangun kerajaan baru. Kerajaan yang kelak dikenal sebagai Mataram – penerus Pajang, Demak, Majapahit. Di Bang Lampir, Ki Pemanahan melakukan tapa brata, merenung panjang, menghening, melepaskan beban dunia, berdialog …

Read More »

Kembang Lampir-6: Jadi Rujukan Penggayuh Tahta

Mendengar kisah Pak Pur, saya terpesona. Sambil menarik nafas panjanng kemudian, membuangkan perlahan, saya melihat kembali ke atas. Ke tempat pertapaan. Ke Pacak Suci yang terlindung rindang pohon. Ke bangsal utama yang terkunci. Ke tempat keramat itulah, para peziarah mengalir tiada henti. Seolah tiada henti pula, Kembang Lampir menjadi rujukan …

Read More »

Kembang Lampir-5: Pengabdian Kepada Leluhur

Terlihat, Pak Tris di pos menunggu dengan senyuman. Sambil ngelaras sebatang rokok lintingan, pria 65 tahun itu, sedang menyimak wayangan di radio. Lakonnya, Wahyu Makutoromo, yang dibawakan dengan menarik oleh Ki Hadi Sugito, almarhum dalang kesayangan masyarakat Jogja. “Nanti kalau bulan Suro, di sini ramai. Banyak orang datang. Kalau hari-hari …

Read More »

Kembang Lampir-4: Kesinupan, menjadi Selimut Pertapaan Kembang Lampir

Saya baru beranjak, meninggalkan depan Pacak Suci Krapyak, setelah tiba-tiba saja seperti terdengar suara mengaum. Hanya sekali dan samar-samar. Saya tidak tahu persis, benarkah pendengaran saya itu, atau sekadar rerunggon karena berada di tempat angker. Tapi akhirnya, saya memutuskan untuk meninggalkan Pacak Suci. Buat saya, agaknya itu pertanda, untuk menyudahi …

Read More »

Kembang Lampir-3: Di Bawah Pohon Wegik, Ki Ageng Pemanahan Bertetirah

Secara spontan, saya menangkupkan kedua telapak tangan, memberi hormat pada Pacak Suci Krapyak, sebidang tanah miring yang ditumbuhi pohon salak dan pohon wegik dengan dipagari kayu berselimut kain mori. Di tempat itulah, di bawah pohon Wegik, Ki Ageng Pemanahan menjalani pertapaan panjang, sebelum menerima wahyu Gagak Emprit. Di depan Pacak …

Read More »