Cakru e wis mulai meliuk-liuk. Perdebatan sudah nyaris satu jam berlangsung. Eyel-eyelan, ubruk, saling menggembosi. Denpur, Densus, Ki Mbero, Denwiro. Semua saling
CAKRUK: Kiai Jenar Mengundang Masa Lalu
Pagi-pagi sudah ubrug. Itulah yang terjadi di Cakruk esuk ini. Semua pendekar sedang ngumpul. Hanya Densus yang tidak kelihatan. Sampai-sampai, Denpur harus
Ki Mbero Mak Gragab Disuruh Sabar…
Awan-awan sudah disuguhi pemandangan menyeramkan. Ki Mbero sewot gara-gara telat ke sawah. Ia tidak habis mengerti mengapa, jalanan yang biasanya senyap, berubah
Ra Sopan, Ki Mbero Protes Uleman Kok Lewat Grup
Berhari-hari Cakruk ra ono benine, senyap, sepi, seperti kuburan Mbanaran di belakang rumah Kang Barno. Para aktivis sibuk semua: Densus sedang menyusun
CAKRUK 4: Semua yang Namanya Ana Pancen Ayu…
Isuk-isuk Cakruk wes ubruk. Jalarane kalimat tembakan Densus yang sepertinya tak mengena betul di ulu hati Ki Mbero. Begini katanya, “Pokoke bintang
CAKRUK 3: Ini Tentang Legenda Cakruk Senior
Cakruk tetep sepi, namun Kibawang tidak putus asa. Dipukul lagi keras keras kentongan besar dari pokok pohon kelapa, karya dari Mbah Sono
CAKRUK 2: Dua Kali Cunthel, Marake Mengkel
Sore-sore, Cakruk tak seramai biasanya. Entah kenapa, hari ini banyak yang absen di tempat yang biasanya selalu menyenangkan itu. Para aktor utama
CAKRUK 1: JURUS MAUT TAPAKNOGO KI MBERO
Sugeng rawuh. Selamat datang di Cakruk kami. Cakruk para linuwih, karena yang biasa canda-candaan karo ubruk adalah poro sakti mandraguna. Gelarnya juga
- Sebelumnya
- 1
- 2

