Home / DWIDJO / Api Cinta (79): Judul yang Tepat untuk Tulisan Ini Apa?

Api Cinta (79): Judul yang Tepat untuk Tulisan Ini Apa?

Kelompok sosial menjadi bergemuruh. Mereka menemukan topik aktual yang sangat mereka fahami. Selain menjadi permasalahan umum di kalangan remaja putra dan putri.

Rata-rata mereka melakukan dengan berbagai alasan yang dapat berbeda-beda, satu dan lainnya. Ada karena keterpaksaan, ada juga karena pelarian bahkan ada yang menjadi sebuah kebutuhan.

Mereka menyadari banyak dampak negatif yang dapat ditimbulkan. Namun tetap saja remaja banyak melakukan sebagai bagian dari dunia anak muda. Di sebagian kalangan remaja yang menjadikannya sebagai kebutuhan bahkan sama sekali tidak dapat meninggalkan. Mereka mengetahui sebagai perbuatan yang tidak baik, namun mereka tidak dapat mengelak.

“Dosa,”

“Itu perbuatan dosa,”

“Terlarang menurut agama,”

“Tidak baik menurut aspek kesehatan,”

“Dapat menimbulkan kerusakan jaringan syaraf,”

“Menjadikan anak sekolah kehilangan konsentrasi belajarnya,”

Sekretaris kelompok mencatat semua yang berkembang dalam diskusi untuk kemudian disusun dalam bentuk kertas kerja sebanyak sepuluh halaman. Hampir tidak ada yang ketinggalan, setiap pembahas dalam diskusi dituliskan secara lengkap. Mulai dari pengusul sampai gagasan yang disampaikan, bahkan bantahan yang disampaikan pihak yang tidak sependapat.

Diskusi menjadi hidup karena mereka memahami permasalahan yang tengah diperbincangkan. Mereka mengetahui, bahkan sebagian mereka melakukan dalam berbagai bentuknya. Ada yang menyampaikan secara terbuka, ada yang malu-malu bahkan ada di antara mereka yang berpura-pura tidak pernah melakukan. Padahal sudah menjadi rahasia umum, pelajar yang di kelas selalu ngantuk hampir dapat dipastikan malamnya tidak dapat tidur sebelum melakukan tradisi di antara mereka.

Tibalah saatnya menuliskan gagasan-gagasan yang berserakan dari catatan diskusi yang seru, serem namun dalam suasana gembira. Di antara mereka bahkan seperti menemukan media untuk menyampaikan gagasan-gagasan segar yang selama ini terpendam. Mereka seperti mencurahkan isi hati atas permasalahan-permasalahannya yang membelit, mereka mengetahui dampak buruknya namun sama sekali tidak dapat meninggalkannya.

Mereka seperti kecanduan, terus-menerus dan tidak ada usaha untuk menghilangkan kebiasaan buruknya. Bahkan ada yang mengaku seperti makan obat saja, pagi siang dan sore. Tentu saja mereka melakukan sendiri-sendiri dan di tempat tertutup di kamar, di kamar mandi atau di tempat yang dipastikan tidak dapat diketahui orang lainnya.  Kalau di kamar mandi anak remaja berlama-lama hampir dapat dipastikan tengah melakukan tradisi. Atau ada lagi yang melakukan sembil bernyanyi-nyanyi sekenanya.

“Judul yang tepat untuk tulisan kita ini apa?”

“Apakah langsung saja, atau ada yang lain?”

“Bagaimana kalau langsung sebut namanya?”

“Masturbasi dan onani dosa dan merugikan?”

“Lalu siapa yang akan menjadi juru bicara?,”

Giliran pertama menyampaikan gagasan-gagasan yang berkembang selama diskusi. Masing-masing juru bicara  maju memaparkan apa konsep, isi pembahasan dan bagaimana jalan keluar yang ditawarkan untuk masalah yang dihadapi di masyarakat ramai.

Masing-masing kelompok menampilkan jagonya dalam berargumentasi. Ketika kelompoknya mendapat tanggapan dari kelompok lain, harus mampu memberikan jawaban tepat. Kalau mungkin  bahkan juru bicaranya yang sangat menguasai permasalahan yang disajikan. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *