Home / DWIDJO / Api Cinta (66): Jadi Orang itu Nggak Usah Nganeh-anehi

Api Cinta (66): Jadi Orang itu Nggak Usah Nganeh-anehi

Masanah tergolong sedang-sedang saja. Tidak banyak kelebihan yang dimiliki. Bukan saja dalam pelajaran di sekolah.

Melainkan di berbagai bidang kehidupan. Untuk itu Masanah selalu rajin dalam banyak hal. Pelajaran yang tidak menonjol, bukan berarti tidak mampu menguasai. Justru karena kerajinannya dalam belajar, sering memiliki hasil lebih baik. Kesadaran atas kemampuannya yang sebatas rata-rata, justru menjadi pemacu untuk mencapai prestasi terbaik. Tidak teledor dan tidak terlena setiap menghadapi kesempatan.

Penampilannya juga sedang-sedang saja. Hitam manis kulitnya, rambut panjang sampai pinggang. Selalu dikepang dua, terkadang dilipat untuk menyembunyikan rambutnya yang panjang. Perawakannya juga sedang-sedang saja. Namun tetap memiliki daya tarik tersendiri. Penampilannya luwes sebagai sosok wong jowo yang tetap njawani, layaknya masyarakat yang tinggal di perkampungan.

Cara berpikir yang sederhana. Cara pandang dalam banyak hal juga sangat sederhana. Harapan dan cita-citanya juga sederhana saja. Tidak banyak tingkah polah, juga tidak banyak tindakan yang diambil. Layaknya si roro ireng, Woro Sembodro yang menjadi tokoh perempuan utama dalam dunia pewayangan. Laku lampahnya yang santun. Menjadi daya pikat terhadap siapa saja yang diajak bicara membahas berbagai permasalahan.

Sosok perempuan jawa yang masih memegang teguh cita-cita sebagai perempuan kebanggaan generasi sesudahnya. Perempuan yang setia dengan kodratnya sebagai bagian dari sejarah perjalanan umat manusia. Hal itu bukan berarti memelihara semangat feodalisme. Justru perempuan yang memegang teguh warisan leluhurnya sebagai sosok idealis. Mereka memiliki semangat juang untuk mempertahankan cita-cita luhur yang dibangun para pendahulunya.

Teman-teman Masanah selalu memberikan komentar miring atas sikap dan semangat yang dijalani Masanah. Bukan saja dalam hal bersikap dan bertindak, melainkan juga cara berpikir dan mengambil keputusan. Termasuk keputusan dan teguh memegang cita-cita untuk menjadi ibu rumah tangga. Kalau hanya untuk menjadi ibu rumah tangga mengapa mesti belajar tinggi.

Masanah bulat dengan sikap dan semangatnya. Setia dengan cita-cita dan harapannya. Untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Hal itu dapat diwujudkan manakala disiapkan generasi yang berkualitas.untuk membangun generasi berkualitas, mutlak anak-anak harus disiapkan sejak sangat dini.  Tidak boleh menyerahkan anak-anak kepada pembantu. Mereka tidak cukup memiliki pengalaman, juga tidak memiliki semangat membangun generasi yang lebih baik.

“Wong zaman sekarang kok masih ada orang memegang tradisi,”

“Namanya kuno, seperti barang antik saja kowe kuwi,”

“Mbok ya yang biasa-biasa saja kamu,”

“Nggak usah nganeh-anehi,”

“Biasa-biasa saja,” katanya. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *