Home / DWIDJO / Api Cinta (49): Bagaimana Mungkin Perempuan menjadi Pemimpin

Api Cinta (49): Bagaimana Mungkin Perempuan menjadi Pemimpin

Pendidikan bagi kaum perempuan lebih banyak akan mendatangkan malapetaka dan bencana. Perempuan yang memiliki kemandirian akan melakukan perlawanan terhadap kaum laki-laki.  Perempuan tidak lagi bersedia menempati kodratnya sebagai perempuan.

Perempuan akan berhadapan dengan kaum lelaki. Dalam banyak hal perempuan akan mengambil peran laki-laki yang mengingkari kodratnya. Pekerjaan yang seharusnya hanya cocok untuk laki-laki juga dilakukan perempuan. Bagaimana mungkin perempuan menjadi gagah perkasa, memiliki otot kawat balung wesi.

“Bagaimana mungkin perempuan menjadi pemimpin,” Paidi melontarkan argumentasinya di hadapan sidang dewan juri. Secara kodrati perempuan menjadi sosok yang dipimpin. Menjadi penjaga nilai-nilai dalam keluarga. Mendidik anak-anak, membesarkan mereka dan mengantarkan sampai ke gerbang kehidupan yang lebih baik di masa depan. Untuk itu perempuan harus bersedia dan secara ikhlas mau dipimpin laki-laki. Meskipun dalam banyak hal perempuan memiliki kemampuan, bahkan lebih dibandingkan laki-laki. Perempuan tetap saja perempuan yang memiliki kodratnya sendiri.

“Kartini menempatkan diri sebagai sosok perempuan yang maju dan modern, Kartini juga menjadi perempuan yang mampu menempatkan kodratnya”. Perempuan yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada laki-laki yang menjadi suami. Meski sang suami memiliki istri yang lain, namun tetap menjadi sosok suami yang bertanggungjawab. Kartini menjadi sosok yang ngeman papan. Selain berdiri tegak sabagai perempuan, sekaligus menjadi ibu dari anak-anaknya. Menjadi istri dari suaminya.

Di saat yang sama Kartini tampil sebagai makhluk sosial. Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup bermasyarakat, bertetangga dan berbaur dengan sesamanya. Untuk itu wajar ketika Kartini berkeinginan membangun masyarakat. Melalui pendidikan dengan membuka sekolah keputrian. Kartini benar-benar berjuang untuk kaumnya. Semua itu dilakukan untuk mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan. Meski sesungguhnya perempuan memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Perempuan menyandang Asmaul Husna, ar Rahim dari salah satu bagian tubuhnya,” kata Paidi dengan suara tandas. Juri yang bertugas memberikan penilaian dibuat manggut-manggut, entah kenapa. Satu hal yang disampaikan sesuai dengan kenyaan. Hanya perempuan yang memiliki rahim dari anggota tubuhnya. Hal itu membuktikan perempuan memiliki kelebihan yang tidak dimiliki laki-laki. Perempuan memiliki kedekatan khusus dengan ar Rahim, Yang Maha Penyayang.

Kontruksi budaya di masyarakat saja yang menempatkan perempuan di posisi yang tidak menguntungkan. Budaya masyarakat yang menempatkan laki-laki sebagai kepala keluarga menjadikan lelaki memiliki kedudukan lebih dibandingkan perempuan. Padahal hakikatnya laki-laki dan perempuan sama. Hanya satu hal yang membedakan laki-laki dan perempuan, perbuatannya. Laki-laki akan mulia ketika melakukan perbuatan mulia. Sama halnya dengan perempuan menjadi mulia ketika melakukan kegiatan yang mulia.

“Hidup Kartini, Hidup Emansipasi, Hidup Kaum Perempuan”. Paidi mengakhiri lomba pidato antarkelas dengan meneriakkan yel-yel yang memberikan semangat. Teman-teman sekelas yang turut menyaksikan memberikan aplaus yang sama. Kelas yang hanya menampung 40 anak membahana.

Seperti sebuah pertunjukan besar dengan menampilkan pesohor dari kalangan anak muda. Paidi membukukkan badan, memberikan hormat dan menebarkan senyum. Sekali lagi teman-temannya menyambut dengan tepuk tangan meriah. Setidaknya kelas mereka ada yang mewakili di ajang lomba antarkelas.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *