Home / DWIDJO / Api Cinta (48): Gagah Gedhe Pidekso

Api Cinta (48): Gagah Gedhe Pidekso

Penampilan fisik lahiriyah dan nilai-nilai yang melekat dalam diri Gathut Kaca masih dapat disaksikan dalam kehidupan di alam nyata. Menghadirkan seluruhnya memang hanya dalam sebuah cerita. Namun mendekatkan sosok-sosok dalam kehidupan nyata dengan Gathut Kaca masih mungkin terjadi.

Paling tidak sosok guru kesenian yang suka bermain teater tradisional seperti wayang dan kethoprak. Gagah gedhe pidekso, tinggi tegap yang dipadukan dengan nilai-nilai ksatria dan nasionalisme yang ditunjukkan dalam cerita Babad Alas Tunggorono dengan tokoh sentral Gathut Kaca.

“RA Kartini itu sosok perempuan Jawa yang maju dan modern,”  demikian Paidi memberikan paparan di depan dewan juri lomba pidato antarkelas yang diikuti peserta dari beberapa kelas. Memperingati Hari Kartini 21 April serangkaian lomba digelar. Salah satunya lomba pidato antarkelas. Paidi menjadi salah satu peserta lomba. Sementara Mirah menjadi salah seorang dari dewan juri. Sengaja dipilih juri dari anak-anak perempuan. Sedang pesertanya dari anak laki-laki. Alasannya antara lain untuk mengukur seberapa besar kepekaan anak laki-laki terhadap perjuangan emansipasi di tanah Jawa.

“RA Kartini bukan sosok emansipasi, melainkan perempuan Jawa yang  berpikiran maju dan modern,” Paidi menyampaikan argumentasinya. Bukan saja sosok emansipasi terhadap kaumnya. Lebih dari itu bahkan Kartini menjadi sosok pemberdayaan bagi kaum perempuan yang ketika itu masih terbelenggu budaya. Kartini hidup di lingkungan ningrat Jawa, berada di balik tembok tinggi.

Namun Kartini memiliki pergaulan luas di antara sesama warga dunia. Melalui surat-suratnya, Kartini mengungkapkan pikiran-pikirannya yang maju dan modern.

Kartini di kalangan masyarakat muslim, juga dikenal sebagai sosok pejuang. Beliau pernah berguru kepada Ki Ageng Pandanaran yang dikenal sebagai tokoh masyarakat muslim ketika itu.

Kartini menanyakan berbagai permasalahan berkaitan dengan Islam kepada sang guru. Bukan itu saja, Kartini bahkan menyampaikan berbagai keberatan tafsir  keagamaan terhadap perempuan. Ketika itu kaum perempuan berada di posisi terpinggirkan. Perempuan memiliki kedudukan jauh berbeda dibandingkan laki-laki.

“Budaya Jawa juga memiliki aturan yang ketat terhadap kaum perempuan,”  Paidi menyampaikan paparan dalam pidatonya. Sambil mengacungkan jari telunjuk, Paidi layaknya singa podium berapi-api memilih kata-kata yang pas untuk isi pidatonya.

Bukan itu saja di hadapan Mirah yang menjadi salah seorang dewan juri, Paidi berusaha menampilkan pesonanya melalui kata-kata yang disampaikan. Bukan itu saja, Paidi juga ingin menampilkan kemampuannya dalam seni pidato. Bukan Mirah saja yang dapat berkesenian. Dirinya juga mampu berkesenian, khususnya pidato.

“Perempuan dipingit, perempuan yang menjelang akil baligh tidak diperkenankan keluar rumah,” katanya dengan nada berat, bariton. Perempuan juga tidak diperbolehkan melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Perempuan bagaimanapun berpendidikan tinggi, tetap saja kembalinya ke dapur, sumur dan kasur.

Lebih dari itu perempuan lebih banyak berurusan dengan macak, masak dan manak. Wajar budaya Jawa memberikan batasan-batasan tertentu terhadap kaum perempuan. Untuk menjadikana perempuan benar-benar menjaga martabat dan harga dirinya sebagai perempuan. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

One comment

  1. Sangat menggugah sekali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *