Home / DWIDJO / Api Cinta (24): Yang Penting Hadir & Mengalir

Api Cinta (24): Yang Penting Hadir & Mengalir

Paidi mendapat pelajaran yang sangat berharga. Banjir yang menyeret badan kecilnya, dapat diikuti dengan mengikuti air yang mengalir. Tidak melawan arus air yang datang menggelegak. Melainkan mengikuti di mana air mengalir.

Badan yang kecil sekalipun tidak akan tenggelam bersama air yang mengalir. Mengalir mengikuti arus saja akan selamat. Tidak perlu kerja keras melawan arus. Selain kelelahan juga akan sia-sia saja. Bagaimana selamat dari derasnya air. Simpan tenaga untuk mempertahankan diri dari derasnya banjir yang menggelegak.

“Hadir dan mengalir,” lamat-lamat Paidi memikirkan satu kalimat pendek. Agaknya kalimat itu didapatkan dari pengalaman hidupnya. Banjir bandang yang tidak sengaja membawa badan mungilnya menjadikan pelajaran berharga. Pengalaman yang tidak akan pernah terhapus dalam kehidupan di hari-hari selanjutnya.

“Hadir dan mengalir,” tegasnya.

“Ternyata hidup ini harus hadir,” Paidi membatin saja apa yang dipikirkan. Hidup dan hadir menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

“Sama halnya dengan hidup ini harus mengalir,” Paidi masih dengan pikirannya sendiri. Menerawang jauh di angkasa, memikirkan hidup-hidup di hari yang akan datang. Betapa kehidupan harus dijalani.

Naluri Paidi memikirkan kekuasaan alam yang sangat perkasa. Bagaimana dengan kekuasaan yang mengatur alam yang sangat perkasa ini. Kekuasaan pengatur seluruh alam lengkap dengan isinya. Sudah barang pasti Maha Perkasa.

Kekuatan banjir saja sudah sedemikian perkasa. Keperkasaan yang sama terjadi di alam. Ada api, ada angin ada banyak kekuatan alam yang menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dapat dipastikan kekuasaan yang mengatur, air, api, angin dan kekuatan lainnya lebih perkasa. Maha Kuasa.

Naluri Paidi kecil sampai kepada suatu kesimpulan. Ada kekuasaan di atas segala kekuasaan yang Maha Dahsyat. Air sungai yang menggelegak, sedemikian kuatnya. Tokh masih ada kekuatan yang Maha Kuat. Entah kekuatan apa Paidi tidak mengerti, namun sangat dirasakan adanya.

Paidi hanyalah sebatang lidi di arus deras, Kali Jali. Manusia hanyalah lidi-lidi yang tidak akan mampu melawan derasnya arus sungai yang menggelegak. Apalagi dibandingkan dengan alam dan lingkungan yang sangat luas. Paidi hanyalah sebutir debu yang tidak ada apa-apanya.

Sedangkan manusia hanyalah debu-debu yang beterbangan. Kumpulan debu di tengah lautan debu yang sangat banyak. Tidak memiliki kekuatan apa-apa. Juga tidak memiliki kemampuan apapun. Setiap kali angin membawanya terbang entah ke mana. Sama halnya dengan butiran-butiran debu di tengah alam raya yang sungguh sangat luas.(bersambung)

About redaksi

Check Also

BPD Siap Kawal Program Pemdes Sesuai Aturan

Katingan , Koranpelita.com. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Bumi Subur, Henny Meitriyati menyatakan siap kawal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *