Home / DWIDJO / Api Cinta (22): Mengendap-endap, Paidi Pulang

Api Cinta (22): Mengendap-endap, Paidi Pulang

Ujung gethek, dilalui. Paidi mulai cemas dalam kedinginan dan mual akibat banyaknya air yang mulai masuk perutnya. Pertengahan gethek juga sudah dilalui. Paidi belum juga dapat menggapainya.

Makin cemas Paidi dengan keadaan dirinya. Berenang ke hilir mustahil dilakukan. Bertahan di derasnya air juga akan sia-sia belaka. Satu-satunya upaya yang dapat dilakukan hanyalah mengikuti arus air. Kemana air mengalir ke sanalah Paidi mengikuti.

“Ub,” tangan kecil Paidi mulai meraih ujung gethek di bagian buritan. Sesekali terlepas karena licin bambu yang menjadi tempat berpegang. Namun tangan kirinya mulai menggapai-gapai lagi. Akhirnya Paidi dapat menggapai persis di ujungnya. Sekuat tenaga Paidi mempertahankan.

Tinggal berjuang untuk menaiki gethek  agar dapat kembali ke daratan. Tapi usahanya tidak berlangsung cepat. Selain badannya mulai menggigil. Juga lelah yang menderanya sangat menguras tenaga. Tinggal sisa-sisa kekuatannya yang dapat dikerahkan untuk menyelamatkan diri.

Beruntung Paidi masih dapat menguasai diri dan keadaan. Tenaganya yang terkuras habis, tampak dari nafasnya yang tinggal satu-satu. Namun Paidi masih bersyukur, selamat dari amukan sungai yang sedang banjir. Tidak terbayangkan bagaimana nasibnya kalau  gethek tempatnya bersandar tidak kuat menahan derasnya air sungai.

Penat yang teramat sangat baru dirasakan ketika sudah berada di daerat. Tenaganya benar-benar habis. Pucat pasi Paidi memeluk lututnya yang mulai menggigil. Untuk waktu yang lama Paidi memandangi deras air sungai yang makin bertambah. Hujan rintik-rintik di desanya ternyata sangat lebat di hilirnya.

Keberaniannya menjadi ciut menyaksikan Kali Jali yang tengah menggelegak. Dilihatnya arus yang begitu kuat di bawah sana. Ngeri menyaksikan bongkahan batang-batang bambu terseret arus. Pohon kelapa disapu banjir. Bergulung-gulung air membawa serta apa yang menghalangi lajunya air.

Hujan belum juga berhenti, tanda-tandanya malah makin menjadi. Paidi membayangkan kalau pulang basah kuyup bakal kena seprot. Meksi pekerjaan rumahnya sudah beres namun akan saja ada yang salah. Neneknya tergolong ketat dalam menerapkan aturan kerja, termasuk buat Paidi.

Mengendap-endap Paidi pulang. Tidak melewati halaman depan. Paidi lewat samping langsung ke dapur. Untuk menghangatkan badan, sembari merapikan kayu bakar yang akan dipakai untuk nitis, memasak gula kelapa. Paidi memanggang jari-jarinya yang basah berkerut. Sama halnya dengan kaki-kakinya yang hitam kelam pucat terendam banjir.

Beruntung orang-orang di rumah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Paidi luput dari perhatian mereka sehingga tidak sempat diinterogasi. Tidak banyak pertanyaan yang mendera, menggelontor dan menggelegak. Simbahnya hanya hilir mudik di sekitar dapur dan ruang tengah. Tidak sempat memperhatikan Paidi yang kedinginan. Hanya sekelebat saja Simbah bertemu pandang dengan Paidi yang langsung disuruh ganti baju. (bersambung)

About redaksi

Check Also

19 orang Terjaring Operasi Yustisi Penerapan Disiplin Covid 19

Ngaglik, Kabarno.com Tim Gabungan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 Kecamatan Ngaglik digelar di Kalurahan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *