Home / DWIDJO / Api Cinta (104): Kenthos kok Diam saja…

Api Cinta (104): Kenthos kok Diam saja…

Basic training (Batra) PII dan HMI memberi pandangan lain kepada Paidi, terlebih dalam hal menyikapi kebijakan pemerintah. Banyak kebijakan pemerintahan yang tidak sejalan dengan pemikiran dan sikap para aktivis.

Pegawai pemerintah sebagai pelaksana kebijakan, dalam pandangan kaum pergerakan setali tiga uang. Menjadi pegawai pemerintah sama artinya sebagai penyokong kebijakan pemerintah yang harus menyukseskan setiap kebijakan.

Dilematis sekali menghadapinya, namun Paidi tidak hendak membantah saran biyung dan ramaknya. Paidi memilih diam, memikirkannya sendiri. Kalaupun disampaikan akan mendatangkan, permasalahan bagi kedua orang tuanya. Lebih baik memendam sendiri, merasakan dan melaksanakannya sesuai kehendak hukum alam. Biarlah berjalan apa adanya, mengalir seperti halnya Kali Jali membawanya ke arah yang dikehendaki.

Seniornya di PII dan HMI memberikan pemahaman, betapa kehidupan di pemerintahan tidak mudah. Bagaimana sarjana yang menyelesaikan studi harus membawa-bawa map untuk mengajukan lamaran menjadi pegawai pemerintah. Bukankah sarjana harus mengabdikan diri kepada ilmu yang menjadi sumber kebenaran.

“Rasulullah itu pedagang.”

“Kalau mau sukses jadilah pedagang.”

Paidi tidak ingin berselisih dengan kedua orang tuanya. Tidak ingin berdebat menghabiskan energi, kalaupun Paidi tidak setuju dengan pendapat bapak biyungnya, lebih baik diam saja. Kalau sedikit saja menanggapi pembicaraan bapak biyungnya, pasti perbedaan yang akan muncul. Sangat mungkin mendatangkan perbedaan. Sangat mungkin menimbulkan perselisihan berkepanjangan.

Paidi memperkirakan bapak biyungnya akan sungkowo mendapati anaknya berselisih pendapat hanya mengenai masalah pegawai pemerintah. Padahal semua masih mengawang-awang, sekolah belum lagi selesai. Perjalanan masih jauh, masih membutuhkan banyak energi. Untuk menjadi pegawai jalannya masih panjang. Kesempatan dari pemerintah jarang, hanya ketika pemerintah membutuhkan. Itupun peminatnya banyak, antriannya panjang dari keluarga pegawai yang sudah menikmati berbagai kemudahan.

“Kenthos, kok diam saja,”

“Ngelamun masalah pacar,”

“Atau kangen kampung halaman,”

Kribo. Karibnya sesama perantauan membuyarkan lamunan. Paidi biasa disapa Kenthos  di antara sejawatnya. Kenthos panggilan anak laki-laki yang gesit agresif. Anak laki-laki yang super aktif di antara mereka sering disapa sebagai kenthus.  Siapa saja yang berlagak aktif reaktif sering dilabeli sebagai kementhus, kenthus yang berlebihan.

Jumarno nama sebenarnya. Hanya karena memiliki rambut keriting. Kribo untuk menyebut rambut keriting pajang yang melingkar-lingkar. Makin panjang rambut keriting makin melingkar.  Kribo makin membesar seiring dengan rambut keriting memanjang sehingga menjadi pemandangan yang berlainan.

Kribo bersahabat dengan Paidi sejak awal masuk kampus. Kesamaan sebagai anak rantau, membuat keduanya mudah menyesuaikan diri. Dalam banyak hal juga terdapat kesamaan. Sama-sama tidak memiliki teman perempuan sehingga ketika berjalan selalu berdua. Ke perpustakaan kampus dan ke toko buku berdua saja. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Lestarikan Budaya Agung Mocopatan Kapanewon Ngaglik 

Ngaglik, Kabarno.com Ungkapan yang mempunyai harapan kedepan itu disampaikan oleh Ketua Paguyuban Seni Mocopatan ” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *