ACI-23: Selera Rokokmu Iseh Koyo Dukun To?

oleh -48 Dilihat
oleh

Hampa jiwa Indrajit. Jalanan lengang selepas siang di belakang pasar, membingkai suasana di dalam dadanya yang kopong. Kosong serasa bolong. Rute yang dilewati adalah cara mengisi relung hati yang rindu setetes madu.

Begitulah. Rute belakang pasar, tak pernah diambil jika ingin segera sampai rumah. Sebab, jalan yang paling gampang, hanya lurus ke arah timur, tempat semua angkutan sengaja berhenti, menanti anak-anak di sekolahnya. Tapi siang itu, Indrajit tidak ingin pulang secepat biasanya. Ada yang ingin dicuci di dalam otaknya.

“Jit, ayo melu,” suara teriakan itu membuatnya meloncat ke pinggir pagar tembok pasar. Suara yang agak asing, apalagi dengan lengking yang diseling tawa lebar. Ia masih membutuhkan waktu beberapa saat untuk mengenali Eko, anak Glagah yang rambutnya seperti susuh manuk.

Sepeda jengki warna hijau tua itu, masih sepeda yang lama. Ia adalah teman satu sekolah waktu SMP. Mereka berbeda sekolah karena Eko memilih sekolah yang lebih jauh di Lendah. Indrajit baru tahu hari itu setelah melihat seragam dan logo sekolahnya.

“Ayo mbonceng, ojo koyo cah gendeng mlaku ndingklung ra ngematke dalan,” Eko masih tertawa-tawa. Ia memang teman yang meneyangkan, karena banyak tertawa. Hidup seperti dijalani tanpa beban, tanpa target, tanpa keribetan. Sejak SMP Eko memang dikenal selalu tenang pikire, karena menjalani hari-hari dengan mengalir begitu saja.

“Nangdi Ko? Ojo tok blandangke, awas kowe,” Indrajit mengancam tapi justru membuat tawa Eko semakin lebar. Ia seperti tak peduli semua orang melihatnya. Sepeda jengki yang akhirnya terseok-seok menanggung dua orang, digenjot dengan perlahan.

Setelah menikung ke kanan, legalah Indrajit. Ia tahu, Eko hanya akan nongkrong di Bioskop Mandala. Paling tidak, kalau pun keblandang, hanya di tempat yang tidak membuat fikirannya bertambah susah.

“Ngopo kowe yah mene ish klayapan nang kene Jit. Ndasmu agi mumet po? Mesti urusane karo wedhokan. Ket mbiyen uripmu kok isine wedhokan.”

Sepeda seperti dilempar begitu saja oleh Eko. Tidak ditempatnya, melainkan di pager depan bioskop. Setelah setengah berlari, ia menghampiri warung rokok yang ada di sisi kanan, kemudian kembali membawa dua ler djarum super. Indrajit ingin tertawa melihat selera kawannya yang tidak berubah.

“Seleramu iseh koyo dukun to?”

 

“Asu ki…” Umpatan lirih Eko adalah bahasa persahabatan di antara mereka. Indrajit tahu, sahabatnya itu memang mudah mengumpat, selain gampang tertawa-tawa.(besambung) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.